PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) meraih laba yang dapat diatribusikan ke pemilik entitas induk US$248,98 juta pada 2025.
Laba tersebut menyusut 60,91% dibanding 2024 (year-on-year/yoy), serta menjadi yang terendah dalam empat tahun terakhir.
Penurunan laba ini seiring dengan berkurangnya penjualan bersih AMMN pada 2025, yang turun 30,68% (yoy) menjadi US$1,85 miliar.
Penjualan AMMN pada 2025 berasal dari penjualan domestik produk akhir katoda tembaga dan emas murni senilai US$190,63 juta.
Kemudian ada penjualan ekspor konsentrat tembaga dan emas US$587,21 juta, serta penjualan ekspor produk akhir katoda tembaga dan emas murni US$1,07 miliar.
Adapun beban pokok penjualan AMMN pada 2025 mencapai US$1,01 miliar, turun 23,34% (yoy).
Sampai 31 Desember 2025, nilai total aset AMMN mencapai US$13,87 miliar, bertambah 24,72% (yoy). Asetnya terdiri dari ekuitas US$5,43 miliar, serta liabilitas yang melonjak 43,70% (yoy) menjadi US$8,44 miliar.
Menurut Direktur Utama AMMN, Arief Sidarto, lonjakan liabilitas mereka dipengaruhi peningkatan pinjaman bank oleh anak usahanya, yakni PT Amman Mineral Nusa Tenggara senilai US$2 miliar, PT Amman Mineral Industri US$175 juta, dan PT Amman Nusantara Gas US$29 juta.
Pinjaman tersebut digunakan untuk belanja modal, yang tercermin dalam peningkatan pos aset tetap sebesar 25%.
"Belanja modal yang dilakukan perusahaan ini merupakan kelanjutan konstruksi proyek smelter, sebagai salah satu proyek strategis nasional," ujar Arief dalam suratnya kepada Direksi Bursa Efek Indonesia (17/3/2026).
Belanja modal AMMN juga digunakan untuk meningkatkan kapasitas fasilitas pemrosesan, pembangunan pembangkit listrik tenaga gas, serta pembangunan unit terminal penerimaan dan penyimpanan LNG dan regasifikasi LNG.
(Baca: Laba Emiten Penjual Emas BRMS Naik pada 2025, Tertinggi Empat Tahun Terakhir)