- A Kecil
- A Sedang
- A Besar
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 3,27% ke level 7.337,37 pada penutupan perdagangan Senin (9/3/2026).
Menurut Direktur Eksekutif CSA Institute David Sutyanto, pelemahan IHSG dipengaruhi oleh dua faktor.
Pertama, dari sisi global, eskalasi konflik di Timur Tengah mendorong pasar masuk ke mode risk-off serta memicu lonjakan harga minyak dunia. David menilai situasi ini membuat investor global cenderung mengurangi investasi saham di negara berkembang.
Kedua, dari dalam negeri, IHSG dibayangi kekhawatiran pelaku pasar terkait status Indonesia sebagai net oil importer, yang dinilai berpotensi menambah beban fiskal dan menekan nilai rupiah.
"Dalam situasi seperti ini pasar juga melihat tekanan pada rupiah yang ikut melemah, sehingga risiko inflasi dan tekanan fiskal menjadi perhatian investor," kata David, dilansir Katadata.co.id (9/3/2026).
(Baca: 9 Hari Perang AS-Israel vs Iran, Harga Minyak Tembus US$100 per Barel)
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, seluruh atau 11 sektor saham dalam negeri terkoreksi hari ini.
Sektor transportasi turun paling dalam hingga 5,22%, diikuti sektor barang baku dan sektor properti yang masing-masing jatuh 4,59% dan 4,57%.
Menurut data RTI Business, frekuensi perdagangan saham dalam negeri hari ini 2,47 juta kali transaksi, total saham berpindah tangan 46,80 miliar lembar, dan nilai transaksi mencapai Rp23,88 triliun.
Sebanyak 708 saham ditutup melemah hari ini, lalu 68 saham menguat, dan 41 saham stagnan.
Emiten top losers hari ini adalah RONY, ENZO, dan PPRI yang sama-sama terkoreksi 15%.
Di sisi lain, emiten berkode RANC menjadi top gainer setelah menguat 24,53%, diikuti SHID yang naik 24,50% dan OILS yang menguat 17,76%.
Sejalan dengan IHSG, seluruh bursa kawasan Asia sore ini parkir di zona merah. Indeks Nikkei turun 5,20% ke 52.728,72; indeks Hang Seng turun 1,35% ke 25.408,46; indeks Shanghai turun 0,67% ke 4.096,60; dan indeks Strat Times turun 1,89% ke 4.756,61.
(Baca: IHSG Turun saat Bursa Kawasan Asia Menguat (Jumat, 6 Maret 2026))