Pada Januari 2026, nilai dolar Amerika Serikat (AS) melemah di hadapan sejumlah mata uang dunia. Hal ini terlihat dari turunnya indeks DXY.
DXY adalah indeks yang mengukur nilai tukar dolar AS terhadap 6 mata uang penting di pasar global, yaitu euro (EUR), yen Jepang (JPY), pound Inggris (GBP), dolar Kanada (CAD), krona Swedia (SEK), dan franc Swiss (CHF).
Indeks DXY di atas 100 poin mencerminkan peningkatan, sedangkan di bawah 100 poin mencerminkan penurunan nilai tukar dolar AS terhadap kelompok mata uang tersebut.
Pada tanggal 2 Januari 2025, indeks dolar AS masih berada di level 109,39 poin, menunjukkan posisi yang kuat. Namun, setelah itu indeksnya berfluktuasi dengan kecenderungan melemah.
Pelemahan terjadi hingga indeks dolar AS masuk level di bawah 100 poin pada April 2025, saat Presiden AS Donald Trump mengumumkan kebijakan tarif resiprokal berupa bea masuk tinggi bagi negara-negara yang hendak menjual produknya ke AS.
Tren penurunan pun berlanjut hingga indeks dolar AS mencapai 96,19 poin pada 29 Januari 2026. Ini merupakan posisi dolar AS paling lemah setidaknya dalam setahun terakhir, seperti terlihat pada grafik.
(Baca: Trump Revisi Kebijakan Tarif Impor Setelah Inflasi AS Meningkat)