Ada banyak negara di Asia Tenggara yang memiliki risiko bencana sangat tinggi, salah satunya Indonesia.
Hal ini terlihat dari World Risk Index yang dirilis organisasi kemanusiaan asal Jerman, Bündnis Entwicklung Hilft, bersama lembaga riset asal Eropa, Institute of International Law of Peace and Armed Conflict.
(Baca: Siklon Tropis Senyar Renggut Hampir 1.000 Nyawa di Asia Tenggara)
World Risk Index adalah indeks yang mengukur risiko bencana akibat peristiwa alam ekstrem dan dampak negatif perubahan iklim.
Indeks ini disusun dari berbagai dimensi penilaian yang terangkum dalam dua pilar besar, yaitu:
- Keterpaparan (exposure): Frekuensi dan intensitas bencana gempa, tsunami, banjir, siklon, kekeringan, dan kenaikan permukaan air laut di suatu wilayah, serta berapa banyak populasi yang terdampak.
- Kerentanan (vulnerability): Seberapa mudah suatu masyarakat mengalami ketidakstabilan akibat bencana, termasuk kapasitas mereka dalam menanggulangi bencana dari segi ekonomi, politik, sosial, dan lingkungan.
Pilar penilaian ini kemudian dirumuskan menjadi skor berskala 0—100 poin dengan klasifikasi berikut:
- Risiko sangat rendah: 0—1,84 poin
- Risiko rendah: 1,85—3,20 poin
- Risiko menengah: 3,21—5,87 poin
- Risiko tinggi: 5,88—12,88 poin
- Risiko sangat tinggi: 12,89—100 poin
Berdasarkan metode ini, ada 6 negara Asia Tenggara yang risiko bencananya masuk kategori sangat tinggi pada 2025.
Kemudian 2 negara tetangga memiliki risiko bencana tinggi, 1 negara risiko rendah, dan 2 negara risiko sangat rendah. Berikut rinciannya:
Risiko sangat tinggi:
- Filipina: 46,56 poin
- Indonesia: 39,8 poin
- Myanmar: 36,91 poin
- Vietnam: 25,92 poin
- Thailand: 20,03 poin
- Malaysia: 14,28 poin
Risiko tinggi:
- Kamboja: 8,14 poin
- Timor Leste: 7,25 poin
Risiko rendah:
Risiko sangat rendah:
- Brunei Darussalam: 1,31 poin
- Singapura: 0,67 poin
(Baca: Indonesia, Negara dengan Risiko Bencana Tertinggi ke-3 di Dunia pada 2025)