Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Harapan Lama Sekolah (HLS) Kabupaten Situbondo Jawa Timur pada akhir tahun 2025 mencapai 13,21 tahun. Selama periode 16 tahun pengamatan sejak 2010, indikator ini terus mencatatkan kenaikan tanpa ada satu periode penurunan sama sekali. Secara total, terjadi peningkatan HLS sebesar 14,87 persen dari nilai awal 11,5 tahun pada 2010. Rata-rata pertumbuhan tahunan indikator ini tercatat sebesar 0,93 persen sepanjang periode.
(Baca: Jumlah Penduduk dan Persentase Kemiskinan di Kabupaten Katingan | 2004 - 2025)
Selama periode pengamatan, kenaikan tahunan tertinggi terjadi pada tahun 2012 dengan penambahan nilai HLS sebesar 0,66 tahun atau tumbuh 5,72 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara kenaikan terendah terjadi pada hampir separuh periode pengamatan, yaitu hanya bertambah 0,01 tahun per tahun. Pertumbuhan rata-rata 3 tahun terakhir hanya sebesar 0,076 persen, lebih rendah dibanding rata-rata 5 tahun terakhir yang mencapai 0,091 persen. Hal ini menunjukkan perlambatan laju kenaikan HLS pada periode paling akhir.
Posisi peringkat HLS Kabupaten Situbondo di wilayah Pulau Jawa terus mengalami penurunan dalam 5 tahun terakhir. Dari peringkat 54 pada tahun 2020, wilayah ini turun bertahap hingga menempati urutan 64 pada tahun 2025. Secara nasional, penurunan peringkat juga terjadi yaitu dari posisi 196 tahun 2020 menjadi peringkat 252 seluruh Indonesia pada tahun 2025. Nilai HLS 13,21 tahun pada 2025 tercatat sedikit berada di atas rata-rata periode seluruh sebesar 12,83 tahun.
Kabupaten Kutai Timur
Kabupaten Kutai Timur menempati peringkat 18 di wilayah Pulau Kalimantan dan peringkat 250 secara nasional untuk nilai HLS tahun 2025. Wilayah ini mencatatkan nilai HLS 13,22 tahun, sedikit lebih tinggi dibanding Kabupaten Situbondo. Pertumbuhan HLS wilayah ini pada tahun terakhir mencapai 1,54 persen, jauh lebih tinggi dibanding laju pertumbuhan Situbondo yang hanya 0,08 persen. Besar penambahan nilai tahunan mencapai 0,2 tahun, 20 kali lipat penambahan nilai yang terjadi di Situbondo pada periode yang sama.
Kabupaten Bekasi
(Baca: Realisasi Investasi PMA di Sulawesi Tenggara | 2025)
Kabupaten Bekasi yang terletak di Pulau Jawa menempati peringkat 63 tingkat pulau dan peringkat 250 secara nasional pada tahun 2025. Nilai HLS wilayah ini sama dengan Kutai Timur yaitu 13,22 tahun, namun memiliki laju pertumbuhan yang jauh lebih rendah hanya sebesar 0,3 persen pada tahun terakhir. Wilayah ini hanya tercatat menambah nilai HLS sebesar 0,04 tahun dibandingkan tahun sebelumnya, meskipun masih lebih tinggi dibanding penambahan nilai Situbondo. Peringkat wilayah ini hanya satu tingkat di atas Situbondo di tingkat Pulau Jawa.
Kabupaten Sragen
Kabupaten Sragen menempati urutan paling bawah peringkat 64 di wilayah Pulau Jawa dan peringkat 252 secara nasional pada tahun 2025. Wilayah ini memiliki nilai HLS yang sama persis dengan Situbondo yaitu 13,21 tahun, namun mencatatkan pertumbuhan jauh lebih tinggi yaitu 2,17 persen pada tahun terakhir. Penambahan nilai HLS Sragen mencapai 0,28 tahun dalam satu tahun, menjadi laju pertumbuhan tertinggi diantara seluruh wilayah yang dibandingkan. Meskipun memiliki nilai akhir sama, laju peningkatan Sragen 27 kali lebih cepat dibanding Situbondo.
Kabupaten Supiori
Kabupaten Supiori wilayah Papua menempati peringkat 11 tingkat pulau dan peringkat 252 secara nasional pada tahun 2025. Wilayah ini mencatatkan nilai HLS 13,21 tahun, sama persis dengan nilai Situbondo dan Sragen. Pertumbuhan HLS wilayah ini sama persis dengan Situbondo yaitu 0,08 persen pada tahun terakhir, dengan penambahan nilai hanya 0,01 tahun. Peringkat di wilayah pulau asalnya jauh lebih baik dibanding posisi Situbondo di Pulau Jawa, menunjukkan persaingan indikator pendidikan yang jauh lebih ketat di wilayah Jawa.
Kabupaten Sumedang
Kabupaten Sumedang menempati peringkat 64 tingkat Pulau Jawa dan peringkat 252 secara nasional pada tahun 2025. Wilayah ini memiliki nilai HLS 13,21 tahun, sama dengan tiga wilayah lain yang dibandingkan. Pertumbuhan HLS Sumedang tercatat 1,46 persen pada tahun terakhir, dengan penambahan nilai mencapai 0,19 tahun. Laju pertumbuhan ini hampir 18 kali lebih cepat dibanding laju pertumbuhan Situbondo pada periode yang sama, meskipun pada akhirnya menghasilkan nilai akhir HLS yang identik.