Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat realisasi investasi PMA di DI Yogyakarta pada tahun 2024 sebesar US$15.901,3 ribu. Data ini menunjukkan penurunan sebesar 65,44% dibandingkan tahun 2023 yang mencapai US$46.008,4 ribu. Penurunan ini cukup signifikan setelah tahun sebelumnya mengalami pertumbuhan yang tinggi.
Secara historis, realisasi investasi PMA di DI Yogyakarta menunjukkan fluktuasi. Kenaikan tertinggi terjadi pada tahun 2023 dengan pertumbuhan 113.893,3 ribu US$, sementara penurunan terendah terjadi pada tahun 1995 dengan penurunan 500 ribu US$. Dalam lima tahun terakhir, investasi cenderung fluktuatif, menunjukkan dinamika ekonomi yang berubah-ubah di wilayah ini. Nilai investasi tahun 2024 lebih rendah dibandingkan rata-rata 5 tahun terakhir. Kondisi ini berbanding terbalik dengan tahun 2023 yang mencatatkan nilai tertinggi dalam sejarah investasi PMA di DI Yogyakarta.
(Baca: Jumlah Penduduk dan Persentase Kemiskinan di Kabupaten Tanah Bumbu Periode 2004 - 2024)
Pada tahun 2024, DI Yogyakarta menempati peringkat ke-6 di Pulau Jawa dalam realisasi investasi PMA. Peringkat ini sama dengan tahun sebelumnya. Secara nasional, DI Yogyakarta berada di peringkat ke-33, menunjukkan bahwa kontribusi investasi PMA di provinsi ini masih relatif kecil dibandingkan provinsi lain di Indonesia. Nilai investasi PMA DI Yogyakarta masih di bawah provinsi lain di Pulau Jawa.
Anomali terlihat pada tahun 2023, di mana terjadi lonjakan investasi yang sangat signifikan. Lonjakan ini tidak berlanjut pada tahun 2024, yang menunjukkan bahwa faktor-faktor yang mendorong investasi pada tahun 2023 mungkin bersifat sementara atau tidak berkelanjutan. Penurunan tajam di tahun 2024 ini mengindikasikan adanya perubahan iklim investasi atau faktor eksternal yang mempengaruhi minat investor asing.
Jika dibandingkan dengan rata-rata 3 tahun terakhir (2021-2023), realisasi investasi PMA di DI Yogyakarta pada tahun 2024 mengalami penurunan yang cukup besar. Rata-rata investasi PMA dalam tiga tahun terakhir adalah sekitar US$60.000 ribu, sementara pada tahun 2024 hanya mencapai US$15.901,3 ribu. Data ini menunjukkan penurunan yang signifikan dan perlu menjadi perhatian bagi pemerintah daerah untuk mengevaluasi dan meningkatkan daya tarik investasi di wilayah ini.
Sumatera Barat
Sumatera Barat menempati urutan ke-7 di Pulau Sumatera dalam realisasi investasi PMA dengan nilai US$36.843,7 ribu. Terjadi penurunan signifikan sebesar 69,46% dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan ini menghasilkan selisih nilai yang cukup besar, yaitu -83.814,8 ribu US$. Kondisi ini menempatkan Sumatera Barat pada peringkat ke-30 secara nasional. Angka ini jauh di bawah nilai dua tahun sebelumnya yang mencapai US$95.624,8 ribu, menunjukkan penurunan yang cukup drastis dalam aktivitas investasi asing di wilayah tersebut.
(Baca: Pengeluaran Perkapita Sebulan untuk Makanan dan Minuman Jadi Kab. Merangin | 2024)
Kep. Bangka Belitung
Realisasi investasi PMA di Kepulauan Bangka Belitung tercatat sebesar US$25.746,8 ribu. Terjadi penurunan tajam sebesar 64,46% dibandingkan tahun sebelumnya. Nilai investasi ini menempatkan Bangka Belitung pada peringkat ke-8 di Pulau Sumatera dan peringkat ke-31 secara nasional. Penurunan yang signifikan ini mencerminkan tantangan dalam menarik investasi asing di wilayah ini. Selisih nilai dengan tahun sebelumnya turun 46.704,9 ribu US$, menggambarkan penurunan yang substansial dalam aktivitas investasi.
Aceh
Aceh mencatatkan realisasi investasi PMA sebesar US$23.618,4 ribu, menempati peringkat ke-9 di Pulau Sumatera. Penurunan yang sangat signifikan sebesar 90,5% dibandingkan tahun sebelumnya menempatkan Aceh pada peringkat ke-32 secara nasional. Penurunan yang sangat tajam ini menghasilkan selisih nilai turun 225.015,4 ribu US$, menunjukkan adanya tantangan besar dalam mempertahankan dan menarik investasi asing di wilayah tersebut. Kondisi ini memerlukan perhatian serius dari pemerintah daerah untuk mengevaluasi dan memperbaiki iklim investasi.
Bengkulu
Dengan nilai investasi PMA sebesar US$15.231,2 ribu, Bengkulu menduduki peringkat ke-10 di Pulau Sumatera dan peringkat ke-34 secara nasional. Penurunan tajam sebesar 79,98% dibandingkan tahun sebelumnya mengindikasikan tantangan yang signifikan dalam menarik investasi asing ke wilayah ini. Selisih nilai dengan tahun sebelumnya turun 60.858,9 ribu US$, menggambarkan penurunan yang substansial dalam aktivitas investasi asing. Upaya perbaikan iklim investasi dan promosi potensi daerah perlu ditingkatkan untuk menarik minat investor.
Gorontalo
Gorontalo mencatatkan nilai investasi PMA sebesar US$10.198,5 ribu. Terjadi penurunan sebesar 69,86% dibandingkan tahun sebelumnya. Di Pulau Sulawesi, Gorontalo menduduki peringkat ke-5. Secara nasional, Gorontalo berada di posisi ke-35. Selisih nilai dengan tahun sebelumnya turun 23.642,6 ribu US$. Angka ini menunjukkan perlunya upaya lebih lanjut untuk meningkatkan daya tarik investasi di Gorontalo.