Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah perusahaan konstruksi skala besar di Provinsi Banten pada akhir tahun 2025 mencapai 69 perusahaan. Angka ini merupakan rekor tertinggi sepanjang periode pencatatan sejak tahun 2007, dengan kenaikan sebesar 42 perusahaan dibandingkan tahun 2024. Tren jangka panjang menunjukkan peningkatan konsisten dengan rata-rata pertumbuhan tahunan gabungan sebesar 15,7% selama 19 tahun, dengan total peningkatan sebesar 1280% dari nilai awal tahun 2007 yang hanya berjumlah 5 perusahaan.
(Baca: Harga Komoditas Nikel untuk Kontrak 3 Bulan ke Depan Naik Menuju Level US$17.830 /Ton (Jumat, 12 Juni 2026))
Pada tahun 2025, pertumbuhan jumlah perusahaan konstruksi besar Banten mencapai 64,29%. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata pertumbuhan 3 tahun terakhir yang hanya sebesar 18,10%, dan juga melampaui rata-rata pertumbuhan 5 tahun terakhir sebesar 21,73%. Kenaikan terbesar sepanjang sejarah terjadi pada tahun 2017 dengan pertumbuhan 262,5%, sedangkan penurunan terdalam tercatat pada tahun 2015 sebesar 76,92% ketika jumlah perusahaan turun sebanyak 20 unit dari tahun sebelumnya.
Posisi peringkat Banten di wilayah Pulau Jawa pada tahun 2025 berada di urutan ke 4 dari 5 provinsi, sementara secara nasional Banten menempati peringkat ke 4 tertinggi seluruh Indonesia. Dibandingkan provinsi lain di Pulau Jawa, nilai 69 perusahaan Banten berada di atas Jawa Tengah yang hanya mencatat 53 perusahaan, namun masih berada di bawah DKI Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Timur yang masing-masing mencatat 347, 94 dan 87 perusahaan pada periode yang sama.
DKI Jakarta
DKI Jakarta menempati peringkat pertama tertinggi baik di Pulau Jawa maupun secara nasional untuk jumlah perusahaan konstruksi skala besar tahun 2025, dengan total tercatat 347 perusahaan. Meskipun menjadi wilayah dengan jumlah terbanyak, provinsi ini justru mencatat penurunan pertumbuhan sebesar 32,88% dibandingkan tahun sebelumnya, menjadikannya satu-satunya provinsi di Pulau Jawa yang mengalami kontraksi pada indikator ini. Nilai ini hampir 5 kali lipat lebih besar dibandingkan jumlah perusahaan di Banten yang berada di peringkat keempat.
Jawa Barat
(Baca: Tiga Hari Terakhir, Harga Kopi Kontrak Tiga Bulan - US Coffee C Futures Terus Naik)
Jawa Barat berada di posisi kedua wilayah Pulau Jawa dan nasional dengan total 94 perusahaan konstruksi skala besar pada akhir 2025. Provinsi ini mencatat pertumbuhan tertinggi seantar provinsi Jawa tahun ini yaitu sebesar 80,77% dibandingkan tahun sebelumnya, dengan penambahan sebanyak 42 perusahaan baru. Nilai total perusahaan di Jawa Barat 36% lebih tinggi dibandingkan Banten yang berada di peringkat tepat dibawahnya, dan hampir dua kali lipat jumlah perusahaan yang tercatat di Jawa Tengah.
Jawa Timur
Jawa Timur menempati urutan ketiga di Pulau Jawa dan peringkat ketiga nasional tahun 2025, dengan tercatat 87 perusahaan konstruksi skala besar beroperasi di wilayah ini. Pertumbuhan tahunan provinsi ini mencapai 29,85% dengan penambahan 20 perusahaan baru dari tahun sebelumnya. Nilai jumlah perusahaan ini hanya selisih 18 unit lebih banyak dibandingkan Banten, menjadikan kedua provinsi ini memiliki persaingan paling ketat untuk posisi tiga besar wilayah Pulau Jawa dalam indikator ini.
Banten
Banten menduduki peringkat keempat di Pulau Jawa dan peringkat keempat secara nasional tahun 2025 dengan total 69 perusahaan konstruksi skala besar. Pertumbuhan tahunan provinsi ini mencapai 64,29% dengan penambahan 27 perusahaan baru, angka pertumbuhan kedua tertinggi setelah Jawa Barat untuk periode tahun ini. Selama lima tahun terakhir, peringkat Banten telah berpindah antara peringkat 4 dan 5 di wilayah Pulau Jawa, dan berhasil kembali ke posisi 4 pada tahun ini setelah sebelumnya sempat turun ke peringkat 5 pada tahun 2023 dan 2024.
Jawa Tengah
Jawa Tengah berada di posisi kelima terakhir wilayah Pulau Jawa dan peringkat kelima nasional untuk tahun 2025, dengan total tercatat 53 perusahaan konstruksi skala besar. Pertumbuhan tahunan provinsi ini hanya sebesar 12,77% dengan penambahan 6 perusahaan baru, merupakan pertumbuhan terendah diantara seluruh provinsi di Pulau Jawa pada periode yang sama. Nilai jumlah perusahaan ini 16 unit lebih rendah dibandingkan Banten yang berada tepat diatasnya dalam daftar peringkat.