Badan Pusat Statistik mencatat pengeluaran per kapita per bulan untuk perawatan kulit di Kabupaten Pesisir Selatan pada tahun 2024 sebesar 38853 rupiah. Nilai ini mengalami penurunan sebesar 19,5 persen dibandingkan tahun 2023 yang mencapai 48253 rupiah. Penurunan ini menjadi penurunan terbesar dalam catatan tujuh tahun terakhir wilayah ini sejak data dicatat mulai tahun 2018. Informasi ini seperti data yang diolah dari data Susenas.
(Baca: Jumlah Kota Jawa Barat Tertinggi pada 2024)
Sepanjang periode 2018 sampai 2024, pengeluaran perawatan kulit wilayah ini mencatat pergerakan naik turun. Pada tahun 2018 nilai awal tercatat 24225 rupiah, lalu naik 11,8 persen pada 2019, turun sedikit 7,6 persen pada tahun 2020, kemudian naik secara berturut-turut sampai mencapai pengeluaran tertinggi pada tahun 2023. Setelah mencapai nilai tertinggi tersebut, nilai turun kembali pada tahun 2024.
Nilai pengeluaran perawatan kulit 2024 di Kabupaten Pesisir Selatan setara dengan 21,7 persen dari rata-rata pengeluaran kecantikan per kapita, dan hanya sebesar 21,7 persen dari pengeluaran sabun mandi bulanan masyarakat. Jika dibandingkan pengeluaran makanan jadi, nilai perawatan kulit hanya mencapai 22,4 persen dari total pengeluaran makanan jadi per kapita setiap bulan.
Berdasarkan peringkat seprovinsi Sumatera Barat, Kabupaten Pesisir Selatan menempati urutan ke 16 dari total 19 kabupaten dan kota pada tahun 2024. Posisi ini berada di atas Kabupaten Solok Selatan, Kabupaten Pasaman dan Kabupaten Padang Pariaman. Sementara secara nasional wilayah ini menempati urutan 414 dari seluruh kabupaten kota di Indonesia, dan urutan 122 di seluruh wilayah Pulau Sumatera.
Dari catatan kabupaten tetangga, terdapat lima wilayah dengan nilai pengeluaran perawatan kulit tertinggi pada tahun 2024 yaitu Kabupaten Tanah Datar 77227 rupiah, Kota Padang Panjang 73755 rupiah, Kota Payakumbuh 71951 rupiah, Kota Padang 68861 rupiah dan Kota Sawahlunto 67678 rupiah. Dari kelima wilayah ini hanya Kota Payakumbuh dan Kota Sawahlunto yang mencatat penurunan nilai pengeluaran, sementara tiga wilayah lain mengalami kenaikan nilai sampai 54,6 persen untuk Kabupaten Tanah Datar.
Kabupaten Pesisir Selatan
(Baca: Statistik PDRB ADHK Sektor Informasi dan Komunikasi Periode 2013-2026)
Untuk total pengeluaran per kapita bulanan gabungan makanan dan bukan makanan, wilayah ini tercatat sebesar 1195143 rupiah pada tahun 2024. Nilai ini mengalami penurunan sebesar 10,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya, dan menempati urutan ke 17 dari seluruh wilayah di Sumatera Barat. Sementara untuk pengeluaran makanan saja, wilayah ini tercatat 709065 rupiah per kapita per bulan dengan kenaikan 13,2 persen, dan menempati urutan ke 17 pada kategori yang sama di tingkat provinsi.
Kota Padang
Kota Padang menjadi wilayah dengan pengeluaran bukan makanan tertinggi di Sumatera Barat dengan nilai 1051706 rupiah per kapita per bulan pada tahun 2024. Wilayah ini mengalami kenaikan sedikit sebesar 2,1 persen dibandingkan tahun sebelumnya, dan tetap mempertahankan posisi peringkat pertama untuk kategori pengeluaran bukan makanan. Untuk total pengeluaran gabungan, Kota Padang menempati urutan kedua provinsi dengan nilai 1974416 rupiah, meskipun mengalami penurunan sedikit sebesar 0,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Kota Padang Panjang
Kota Padang Panjang mencatat total pengeluaran gabungan tertinggi seluruh Sumatera Barat pada tahun 2024 dengan nilai 2182054 rupiah per kapita setiap bulan. Wilayah ini mengalami kenaikan sebesar 19,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya, dan berhasil melampaui Kota Padang yang sebelumnya menempati posisi pertama. Untuk kategori pengeluaran makanan saja, Kota Padang Panjang juga menjadi yang tertinggi dengan nilai 1239644 rupiah per kapita per bulan, dengan kenaikan sangat besar sebesar 63,8 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Kabupaten Tanah Datar
Kabupaten Tanah Datar menempati urutan ke 10 untuk kategori pengeluaran bukan makanan di Sumatera Barat dengan nilai 609432 rupiah pada tahun 2024. Wilayah ini mengalami kenaikan sebesar 17,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya, dan mencatat pertumbuhan paling stabil untuk kategori pengeluaran perawatan kulit sepanjang periode pengamatan. Untuk total pengeluaran gabungan, wilayah ini menempati urutan ke 11 provinsi dengan nilai 1362708 rupiah, dengan penurunan sebesar 7 persen dibandingkan tahun sebelumnya.