Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) mencatat jumlah penduduk balita (0-4 tahun) di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur pada tahun 2024 sebanyak 56.273 jiwa. Data ini menunjukkan penurunan sebesar 3,23% dibandingkan tahun 2023 yang tercatat 58.149 jiwa. Meskipun mengalami penurunan, jumlah ini masih lebih tinggi dibandingkan tahun 2022 yang hanya 52.183 jiwa.
Jika dibandingkan dengan rata-rata 3 tahun terakhir (2021-2023) sebesar 58.946 jiwa, jumlah penduduk balita di Nganjuk pada tahun 2024 lebih rendah. Namun, jika dilihat dalam 5 tahun terakhir (2019-2023), rata-rata jumlah penduduk balita adalah 62.107 jiwa, menunjukkan penurunan yang lebih signifikan pada tahun 2024. Pertumbuhan tertinggi dalam 5 tahun terakhir terjadi pada tahun 2019 dengan 7,58%, sementara penurunan terendah terjadi pada tahun 2024 dengan -3,23%.
(Baca: PDB Paritas Daya Beli (PPP) Andorra 2015 - 2024)
Secara ranking di Pulau Jawa, Kabupaten Nganjuk berada pada peringkat 72 pada tahun 2024, sama dengan tahun 2023. Peringkat ini menunjukkan bahwa Kabupaten Nganjuk memiliki jumlah penduduk balita yang relatif lebih sedikit dibandingkan kabupaten/kota lain di Jawa. Secara nasional, Kabupaten Nganjuk berada pada peringkat 88.
Penurunan jumlah penduduk balita di Kabupaten Nganjuk pada tahun 2024 menjadi anomali jika dibandingkan dengan tren pada tahun 2023 yang mengalami kenaikan sebesar 11,43%. Kenaikan tertinggi dalam data historis terjadi pada tahun 2019 dengan 73.404 jiwa.
Kondisi ini berbeda dengan beberapa kabupaten/kota lain di Pulau Jawa. Sebagai perbandingan, Kabupaten Sleman mencatatkan pertumbuhan negatif turun 3.11%, menduduki peringkat 71 di Pulau Jawa. Kota Serang juga mengalami penurunan turun 1.63% dengan peringkat 74. Sementara itu, Kabupaten Sragen mengalami penurunan lebih besar, yaitu -4.17% dan berada pada peringkat 73 di Pulau Jawa.
Kabupaten Kampar
Kabupaten Kampar menempati peringkat 12 di Pulau Sumatera dengan jumlah penduduk balita sebanyak 59.379 jiwa. Meskipun menduduki posisi yang cukup baik di tingkat pulau, pertumbuhan penduduk balita di Kampar stagnan dengan persentase 0%. Nilai ini menunjukkan bahwa tidak ada penambahan jumlah balita dari tahun sebelumnya. Namun, jika dilihat dari rata-rata, terdapat sedikit peningkatan dibandingkan dengan wilayah lain.
(Baca: Harga Telur Ayam di Pasar Modern Periode Januari 2025-2026)
Kabupaten Banyuasin
Dengan jumlah 57.092 jiwa, Kabupaten Banyuasin berada di peringkat 13 di Pulau Sumatera. Kabupaten Banyuasin mengalami penurunan turun 1.82%. Hal ini menunjukkan adanya penurunan jumlah penduduk balita dibandingkan tahun sebelumnya, meski penurunan tersebut tidak terlalu signifikan. Kondisi ini mungkin memerlukan perhatian khusus untuk memahami faktor-faktor yang mempengaruhinya, seperti program keluarga berencana atau migrasi.
Kabupaten Sleman
Kabupaten Sleman mencatatkan jumlah penduduk balita sebanyak 56.292 jiwa, menempatkannya pada peringkat 71 di Pulau Jawa. Kabupaten Sleman mengalami penurunan turun 3.11%, penurunan ini lebih besar dari kabupaten Banyuasin. Kondisi ini menunjukkan bahwa pertumbuhan balita di Sleman mengalami perlambatan, yang bisa dipengaruhi oleh berbagai faktor sosial dan ekonomi.
Kota Samarinda
Kota Samarinda menduduki peringkat pertama di Pulau Kalimantan dengan jumlah penduduk balita sebanyak 54.833 jiwa. Meskipun menduduki posisi puncak di Kalimantan, Kota Samarinda mengalami penurunan turun 2.52%. Nilai ini menunjukkan bahwa meskipun Samarinda memiliki jumlah balita tertinggi di Kalimantan, pertumbuhan balitanya mengalami perlambatan yang perlu dianalisis lebih lanjut.
Kabupaten Sragen
Kabupaten Sragen mencatat jumlah penduduk balita sebanyak 54.685 jiwa dan berada di peringkat 73 di Pulau Jawa. Kabupaten Sragen mengalami penurunan yang cukup signifikan, yaitu turun 4.17%. Penurunan ini lebih besar dibandingkan daerah lain yang disebutkan sebelumnya. Kabupaten Sragen juga menunjukkan adanya tren penurunan jumlah penduduk balita yang perlu menjadi perhatian.
Kota Serang
Kota Serang memiliki jumlah penduduk balita sebanyak 53.923 jiwa, menempatkannya pada peringkat 74 di Pulau Jawa. Dengan penurunan turun 1.63%, Kota Serang menunjukkan bahwa pertumbuhan balita di wilayah ini mengalami perlambatan. Posisi ini menempatkan Kota Serang sebagai salah satu wilayah dengan pertumbuhan balita yang lebih rendah dibandingkan daerah lain di Pulau Jawa.