Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) Kalimantan Tengah per semester September 2025 berada pada angka 0,11 poin. Nilai ini menjadi rekor terendah sepanjang catatan historis sejak Maret 2012, mengalami penurunan turun 42,11 persen dibandingkan semester sebelumnya Maret 2025. Selama 27 periode pencatatan, indeks ini menampilkan tren turun konsisten, dengan perubahan total penurunan mencapai 57,69 persen dari nilai awal periode 0,26 poin.
(Baca: Indeks FAO: Harga Pangan Maret 2026 Naik)
Rata-rata pertumbuhan 3 semester terakhir mencatatkan penurunan turun 9,18 persen, kondisi ini jauh lebih baik dibanding rata-rata pertumbuhan 5 semester terakhir yang justru mencatatkan pertumbuhan positif sebesar 4,97 persen. Puncak nilai indeks tertinggi terjadi pada September 2013 dengan angka 0,30 poin, sedangkan penurunan terbesar dalam satu periode terjadi pada September 2022 dengan penurunan sebesar 55,56 persen dari periode sebelumnya. Selama periode pencatatan, indeks mengalami kenaikan pada 14 periode dan penurunan pada 12 periode tanpa ada kondisi stagnan.
Kalimantan Tengah pada semester September 2025 berada di peringkat 4 dari seluruh provinsi di Pulau Kalimantan, dan menempati peringkat 36 secara nasional. Dibandingkan provinsi lain dalam data perbandingan, nilai indeks Kalimantan Tengah 0,11 poin lebih tinggi dibanding DKI Jakarta yang berada di angka 0,10 poin, namun lebih rendah dibanding Bali yang mencatatkan 0,13 poin dan Kalimantan Utara di angka 0,05 poin. Kalimantan Utara mencatatkan penurunan terbesar pada periode ini turun 82,76 persen dibanding semester sebelumnya.
Nilai indeks semester terakhir Kalimantan Tengah berada di bawah rata-rata historis seluruh periode yang sebesar 0,1944 poin. Fluktuasi data selama 13 tahun pencatatan ditunjukan dengan selisih perubahan antar semester yang bervariasi antara penurunan terbesar 0,15 poin hingga kenaikan terbesar 0,11 poin dalam satu periode. Pada 5 semester terakhir, peringkat nasional Kalimantan Tengah mengalami penurunan peringkat dari posisi 28 menjadi 36, menunjukan peningkatan posisi dalam daftar provinsi dengan tingkat keparahan kemiskinan lebih rendah.
Sepanjang catatan historis, kenaikan indeks tertinggi dalam satu periode terjadi pada Maret 2022 dengan pertumbuhan sebesar 58,82 persen dibanding periode sebelumnya. Sedangkan penurunan terbesar selain periode September 2022 terjadi pada Maret 2014 dengan penurunan sebesar 43,33 persen. Pada 3 semester terakhir terjadi pola penurunan yang konsisten setelah sebelumnya terjadi kenaikan indeks pada periode Maret 2025.
(Baca: Jumlah Penduduk dan Persentase Kemiskinan di Kabupaten Tana Toraja | 2004 - 2025)
Bali
Bali menempati peringkat 35 secara nasional dan peringkat 3 di wilayah Nusa Tenggara dan Bali untuk Indeks Keparahan Kemiskinan semester September 2025, dengan nilai akhir tercatat 0,13 poin. Wilayah ini mengalami kenaikan sedikit sebesar 8,33 persen dibandingkan semester sebelumnya, dengan selisih kenaikan sebesar 0,01 poin. Nilai indeks Bali pada periode ini berada di atas DKI Jakarta dan Kalimantan Tengah, menjadikan wilayah ini memiliki tingkat keparahan kemiskinan yang lebih tinggi dibanding kedua provinsi tersebut pada periode pencatatan terakhir.
DKI Jakarta
DKI Jakarta tercatat menempati peringkat 37 secara nasional dan peringkat 6 di wilayah Pulau Jawa untuk indikator ini pada semester September 2025. Nilai indeks keparahan kemiskinan Ibu Kota berada di angka 0,10 poin, mengalami penurunan sedikit sebesar 9,09 persen dengan selisih penurunan 0,01 poin dibanding semester sebelumnya. Nilai ini lebih rendah dibanding Bali dan Kalimantan Tengah, namun masih lebih tinggi jika dibandingkan dengan Kalimantan Utara pada periode yang sama.
Kalimantan Utara
Kalimantan Utara menempati peringkat 38 secara nasional dan peringkat 5 di wilayah Pulau Kalimantan untuk Indeks Keparahan Kemiskinan semester September 2025. Nilai indeks wilayah ini tercatat sebesar 0,05 poin, mencatatkan penurunan sangat besar mencapai 82,76 persen dengan selisih penurunan 0,24 poin dibandingkan semester sebelumnya. Nilai ini menjadi yang terendah diantara seluruh provinsi yang dibandingkan, menunjukan tingkat keparahan kemiskinan paling rendah pada periode pencatatan terakhir.