Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Angka Partisipasi Murni SD Provinsi Sulawesi Barat pada akhir tahun 2025 mencapai 95,99 persen. Selama 20 tahun periode pencatatan sejak 2006, nilai ini menunjukan tren naik secara keseluruhan dengan pertumbuhan kumulatif sebesar 4,71 persen. Sepanjang riwayat data, tercatat 15 periode mengalami kenaikan nilai dan 4 periode mengalami penurunan, tanpa ada periode stagnan sama sekali.
(Baca: Harga Bawang Putih di Kalimantan Timur Rp.71.200 per Kg (Jumat, 22 Mei 2026))
Sepanjang data historis, penurunan terbesar APM SD Sulawesi Barat terjadi pada tahun 2011 dengan penurunan sebesar 4,76 persen menjadi 89,18 persen, menjadi titik terendah seluruh periode pencatatan. Sedangkan kenaikan tertinggi tercatat pada tahun 2024, dimana nilai APM mencapai 96,82 persen sebelum turun sedikit sebesar 0,83 persen pada tahun 2025. Rata-rata pertumbuhan 3 tahun terakhir hanya sebesar 0,065 persen per tahun, lebih rendah dibanding rata-rata pertumbuhan 5 tahun terakhir sebesar 0,041 persen.
Tahun 2025 Sulawesi Barat kembali menempati urutan ke 3 dari seluruh provinsi di Pulau Sulawesi, naik satu peringkat dari posisi ke-4 yang dipegang secara konsisten sejak tahun 2012. Di tingkat nasional, posisi Sulawesi Barat meningkat signifikan menjadi peringkat 23 seluruh Indonesia, naik 5 peringkat dari tahun sebelumnya. Nilai akhir 95,99 persen berada di atas rata-rata keseluruhan periode sebesar 94,31 persen.
Aceh
Aceh menempati peringkat 20 tingkat nasional untuk APM SD tahun 2025 dengan nilai tercatat 96,32 persen, lebih tinggi 0,33 persen dibanding nilai Sulawesi Barat. Wilayah ini mengalami penurunan sebesar 1,64 persen dibanding tahun sebelumnya, dengan pertumbuhan negatif turun 1,67 persen. Di wilayah Pulau Sumatera, Aceh menempati urutan ke 7, menjadi salah satu provinsi Sumatera yang mengalami penurunan nilai partisipasi SD terbesar pada periode terakhir.
Bengkulu
Bengkulu tercatat memiliki nilai APM SD tahun 2025 sebesar 96,12 persen, berada 0,13 persen di atas nilai Sulawesi Barat. Provinsi ini menempati peringkat 21 nasional dan urutan ke 8 di Pulau Sumatera. Terjadi penurunan sebesar 2,21 persen dibanding tahun sebelumnya, dengan laju penurunan turun 2,25 persen menjadikan wilayah ini memiliki penurunan paling tajam diantara seluruh provinsi yang tercatat pada daftar perbandingan.
Sulawesi Utara
(Baca: Harga Cabai Rawit Merah di 10 Provinsi Ini Paling Mahal (Jumat, 22 Mei 2026))
Sulawesi Utara menjadi satu-satunya provinsi di daftar perbandingan yang mencatatkan pertumbuhan positif APM SD pada tahun terakhir, dengan nilai 96 persen atau hanya 0,01 persen di atas Sulawesi Barat. Wilayah ini menempati peringkat 22 nasional dan urutan ke 2 di Pulau Sulawesi, menempati posisi tepat di atas Sulawesi Barat pada klasifikasi pulau. Pertumbuhan tahunan wilayah ini tercatat sebesar 0,14 persen, menjadi satu-satunya wilayah yang tidak mengalami penurunan nilai pada periode 2025.
Sumatera Utara
Sumatera Utara mencatatkan nilai APM SD tahun 2025 sama persis dengan Sulawesi Barat yaitu sebesar 95,99 persen. Nilai ini menempatkan Sumatera Utara di peringkat 23 nasional bersamaan dengan Sulawesi Barat, dan urutan ke 9 di wilayah Pulau Sumatera. Wilayah ini mengalami penurunan sebesar 1,69 persen dibanding tahun sebelumnya, dengan laju pertumbuhan negatif turun 1,73 persen pada periode pencatatan terakhir.
Sumatera Selatan
Sumatera Selatan memiliki nilai APM SD tahun 2025 sebesar 95,98 persen, hanya 0,01 persen berada di bawah nilai Sulawesi Barat. Provinsi ini menempati peringkat 25 tingkat nasional dan urutan ke 10 di wilayah Pulau Sumatera. Terjadi penurunan nilai sebesar 1,55 persen dibanding tahun sebelumnya, dengan laju penurunan tahunan tercatat turun 1,59 persen pada periode laporan terakhir.
Maluku Utara
Maluku Utara mencatatkan nilai APM SD tahun 2025 sebesar 95,9 persen, berada 0,09 persen di bawah nilai Sulawesi Barat. Wilayah ini menempati peringkat 26 tingkat nasional namun menduduki urutan pertama tertinggi di seluruh wilayah Pulau Maluku. Terjadi penurunan nilai sebesar 0,51 persen dibanding tahun sebelumnya, dengan laju pertumbuhan negatif turun 0,53 persen pada periode laporan 2025.