Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat pengangguran terbuka (TPT) perempuan di Sulawesi Utara pada tahun 2024 sebesar 6.81 persen. Data historis menunjukkan fluktuasi TPT perempuan di provinsi ini. Pada tahun 2024, terjadi penurunan turun 0.51 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, jika dilihat dalam rentang waktu yang lebih panjang, terlihat adanya peningkatan signifikan pada tahun 2016, di mana TPT mencapai 13.02 persen.
Secara historis, nilai tertinggi TPT perempuan di Sulawesi Utara terjadi pada tahun 2016 dengan 13.02 persen, sementara nilai terendah tercatat pada tahun 1987 dengan 2.68 persen. Penurunan TPT pada tahun 2024 menjadi yang terendah dalam lima tahun terakhir, menunjukkan adanya perbaikan dibandingkan periode sebelumnya. Anomali terlihat pada tahun 2016, di mana terjadi lonjakan signifikan, yang kemudian diikuti penurunan bertahap hingga tahun 2024. Rata-rata TPT perempuan dalam lima tahun terakhir (2020-2024) adalah 7.57 persen.
(Baca: Rata-Rata Pengeluaran Perkapita Sebulan di Aceh 2015 - 2024)
Dalam skala pulau Sulawesi, Sulawesi Utara menduduki peringkat pertama dengan TPT perempuan terendah, yaitu 6.81 persen pada tahun 2024. Secara nasional, Sulawesi Utara berada di peringkat ke-8. Nilai ini menunjukkan bahwa Sulawesi Utara memiliki kondisi ketenagakerjaan perempuan yang relatif lebih baik dibandingkan provinsi lain di Indonesia.
Dibandingkan dengan provinsi lain di Pulau Sulawesi, Sulawesi Utara memiliki persentase pengangguran perempuan yang lebih rendah. Peringkat pertama di pulau ini menunjukkan bahwa upaya pemerintah daerah dalam menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan partisipasi perempuan dalam angkatan kerja telah membuahkan hasil.
Penurunan TPT perempuan di Sulawesi Utara pada tahun 2024 merupakan sinyal positif bagi pasar kerja di provinsi ini. Meskipun demikian, perlu diingat bahwa fluktuasi historis menunjukkan perlunya kewaspadaan dan upaya berkelanjutan untuk menjaga stabilitas dan meningkatkan kualitas ketenagakerjaan perempuan di Sulawesi Utara.
Banten
Banten menempati peringkat ke-5 secara nasional dengan tingkat pengangguran terbuka (TPT) perempuan sebesar 7.2 persen. Dibandingkan tahun sebelumnya, terjadi penurunan signifikan turun 13.1 persen. Nilai ini lebih rendah dibandingkan rata-rata TPT perempuan di Banten dalam beberapa tahun terakhir, menunjukkan adanya perbaikan dalam pasar kerja perempuan di provinsi ini.
(Baca: Harga Cabai Merah Keriting di 10 Provinsi Ini Paling Mahal (Jumat, 23 Januari 2026))
Kep. Riau
Kepulauan Riau berada di peringkat ke-6 secara nasional dengan TPT perempuan 7 persen. Terjadi penurunan turun 14.88 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Meskipun menduduki peringkat yang cukup baik secara nasional, Kepulauan Riau perlu terus berupaya untuk menekan angka pengangguran perempuan agar dapat bersaing dengan provinsi lain yang memiliki kinerja lebih baik.
Sumatera Barat
Sumatera Barat memiliki TPT perempuan sebesar 6.97 persen, menempatkannya di peringkat ke-7 secara nasional. Pertumbuhan TPT di provinsi ini sedikit meningkat, yaitu 1.81 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Meski demikian, Sumatera Barat tetap perlu mewaspadai potensi peningkatan pengangguran perempuan dan mengambil langkah-langkah strategis untuk mengatasinya.
Maluku
Maluku menempati peringkat ke-9 secara nasional dengan TPT perempuan sebesar 6.2 persen. Dibandingkan tahun sebelumnya, terjadi penurunan signifikan turun 13.03 persen. Penurunan ini menunjukkan adanya peningkatan yang cukup baik dalam sektor ketenagakerjaan perempuan di Maluku, sehingga mampu memperbaiki peringkat secara nasional.
DKI Jakarta
DKI Jakarta menduduki peringkat ke-10 secara nasional dengan TPT perempuan sebesar 6.17 persen. Terjadi peningkatan yang cukup signifikan sebesar 35.59 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Peningkatan ini menjadi anomali mengingat banyak daerah mengalami penurunan, sehingga perlu dikaji lebih lanjut faktor-faktor yang mempengaruhinya.
Jawa Barat
Jawa Barat menempati peringkat ke-11 secara nasional dengan TPT perempuan sebesar 6.13 persen. Terjadi penurunan tipis turun 2.01 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Meskipun penurunan tidak terlalu signifikan, Jawa Barat tetap menunjukkan kinerja yang cukup baik dalam menekan angka pengangguran perempuan.