Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat PDRB ADHB Sektor Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang Provinsi Sumatera Selatan pada akhir 2025 mencapai 662,19 Rp miliar. Selama 16 tahun periode pencatatan 2010-2025, sektor ini menunjukkan tren naik secara konsisten dengan total peningkatan sebesar 188,28% atau rata-rata tumbuh 7,31% per tahun. Sepanjang periode tersebut hanya terjadi 2 kali penurunan nilai, yakni pada tahun 2011 dan 2021.
(Baca: Desember 2024, Rata - Rata Upah di Banten Rp.25.909 per Jam)
Pada tahun 2025, sektor ini mencatat pertumbuhan sebesar 3,31%. Angka ini sedikit lebih tinggi dibanding rata-rata pertumbuhan 3 tahun terakhir yang berada di angka 3,12%, namun jauh lebih baik dibanding rata-rata pertumbuhan 5 tahun terakhir yang hanya tercatat 1,81%. Peringkat Sumatera Selatan di lingkup Pulau Sumatera tetap konsisten berada di urutan 2 secara berturut-turut selama 16 tahun periode data, sementara peringkat nasional saat ini berada di urutan 9.
Kenaikan tertinggi sepanjang riwayat data terjadi pada tahun 2014 dengan pertumbuhan 19,54%, sementara penurunan terendah tercatat pada tahun 2011 dengan kontraksi 2,04%. Anomali perlambatan hanya terjadi pada periode 2021 dimana sektor ini mengalami penurunan sebesar 1,82%, sebelum kembali pulih dan mencatat pertumbuhan positif secara berturut-turut hingga akhir 2025. Nilai terendah sepanjang periode juga tercatat pada tahun 2011 sebesar 225,02 Rp miliar.
Sumatera Utara
Sumatera Utara menempati urutan pertama di wilayah Pulau Sumatera untuk sektor ini pada tahun 2025 dengan nilai PDRB mencapai 1091,71 Rp miliar. Wilayah ini mencatat pertumbuhan sebesar 8,99% pada tahun terakhir, angka pertumbuhan ini hampir 3 kali lipat dibanding capaian pertumbuhan Sumatera Selatan. Secara nasional Sumatera Utara berada di peringkat 6, menjadikannya provinsi dengan performa sektor pengelolaan limbah terbaik di seluruh wilayah luar Jawa pada periode laporan ini.
Banten
Provinsi Banten tercatat memiliki nilai PDRB sektor ini sebesar 769,82 Rp miliar pada tahun 2025, dengan pertumbuhan tahunan sebesar 7,17%. Wilayah yang berada di gugusan Pulau Jawa ini menempati peringkat 5 di pulau nya dan peringkat 7 secara nasional. Nilai PDRB Banten masih berada 16,2% di atas capaian Sumatera Selatan, dengan selisih nilai absolut sebesar 107,63 Rp miliar pada tahun laporan yang sama.
(Baca: PDRB ADHB Sektor Pergudangan dan Jasa Penunjang Angkutan; Pos dan Kurir di Kalimantan Selatan | 2025)
Sulawesi Selatan
Sulawesi Selatan menjadi pemimpin peringkat pertama di seluruh wilayah Pulau Sulawesi untuk sektor pengelolaan air dan limbah tahun 2025. Nilai PDRB yang dicapai sebesar 666,19 Rp miliar, hampir setara dengan capaian Sumatera Selatan hanya dengan selisih 4 Rp miliar. Pertumbuhan tahunan tercatat 3,08%, sedikit lebih rendah dibanding capaian Sumatera Selatan, sementara peringkat nasional wilayah ini berada di urutan 8 satu tingkat di atas Sumatera Selatan.
Kalimantan Timur
Kalimantan Timur menempati urutan kedua di Pulau Kalimantan dengan nilai PDRB sektor ini sebesar 522,68 Rp miliar tahun 2025. Wilayah ini mencatat pertumbuhan tahunan sebesar 10,72%, menjadi tingkat pertumbuhan tertinggi diantara seluruh provinsi yang dibandingkan dalam laporan ini. Secara nasional Kalimantan Timur berada di peringkat 10, satu tingkat di bawah posisi Sumatera Selatan pada periode yang sama.
Lampung
Lampung tercatat berada di urutan 3 wilayah Pulau Sumatera untuk sektor ini dengan nilai PDRB 492,49 Rp miliar pada tahun 2025. Pertumbuhan tahunan wilayah ini mencapai 5,85%, angka ini hampir dua kali lipat dibanding pertumbuhan yang dicapai Sumatera Selatan pada tahun yang sama. Secara nasional Lampung menempati peringkat 11, dua tingkat di bawah posisi Sumatera Selatan di daftar peringkat nasional.
Bali
Bali menjadi pemimpin peringkat pertama di wilayah Nusa Tenggara dan Bali dengan nilai PDRB sektor pengelolaan air dan limbah sebesar 483,37 Rp miliar tahun 2025. Wilayah ini mencatat pertumbuhan tahunan sebesar 5,37%, dengan selisih nilai sebesar 178,82 Rp miliar di bawah capaian Sumatera Selatan. Secara nasional Bali berada di peringkat 12, menjadi urutan terendah dari seluruh provinsi yang dibandingkan dalam laporan ini.