Laporan yang dihimpun Our World in Data mengungkap, terdapat sejumlah penyakit dari hewan yang menyumbang kematian terbanyak bagi manusia di dunia pada 2023.
Nyamuk menjadi hewan paling mematikan, dengan estimasi kasus tembus 760 ribu kematian manusia per tahun.
Our World in Data menemukan, lebih dari 80% kematian tersebut disebabkan oleh malaria, ditularkan melalui nyamuk Anopheles. Malaria sendiri masih menewaskan hampir setengah juta anak setiap tahunnya.
Diperkirakan sebanyak 100 ribu orang juga meninggal akibat nyamuk Aedes aegypti—pelaku utama demam berdarah—serta ensefalitis Jepang.
Selanjutnya ada ular berbisa, dengan estimasi 100 ribu kematian per tahun. Namun, tim riset masih menemui tantangan dalam pendataan ini sebab banyak kasus di daerah perdesaan yang kurang terdokumentasi dengan baik.
Lalu ada zoonosis dari anjing dengan perkiraan 40 ribu kematian per tahun.
"Hewan yang sangat dekat dengan manusia sebagai hewan peliharaan. Mayoritas kematian tersebut terjadi akibat rabies, bukan karena luka serangan langsung," tulis Our World in Data dalam lamannya.
(Baca: Ini Alasan Masyarakat Indonesia Memiliki Peliharaan)
Berikut estimasi jumlah kematian manusia akibat 10 penyakit hewan tertinggi di dunia pada 2023:
- Nyamuk: 760.000 kematian per tahun
- Ular: 100.000 kematian per tahun
- Anjing: 40.000 kematian per tahun
- Siput air tawar: 14.000 kematian per tahun
- Kepik cium: 8.000 kematian per tahun
- Lalat pasir: 5.000 kematian per tahun
- Cacing gelang: 4.000 kematian per tahun
- Kalajengking: 3.000 kematian per tahun
- Cacing pita: 2.000 kematian per tahun
- Lalat tsetse: 1.500 kematian per tahun.
Our World in Data menyebut, sebagian besar kematian akibat hewan—terutama dari pembunuh terbesar—sebenarnya dapat dicegah. Intervensi kesehatan publik seperti insektisida, obat-obatan, hingga vaksin telah hadir untuk menanggulangi risiko penularan zoonosis.
Namun yang menjadi masalah, tidak semua orang memiliki akses terhadap pencegahan dan pengobatan tersebut ketika dibutuhkan.
"Jika 'pembunuh kecil' ini mendapat perhatian global sebesar predator besar, mungkin upaya penanggulangannya akan jauh lebih serius," kata Our World in Data.
(Baca: Tingkat Kematian Kasus Hantavirus Global, Kawasan Amerika Paling Tinggi)