Menurut laporan World Health Organization (WHO), per tanggal 8 Mei 2026, ada 8 kasus hantavirus yang ditemukan di kapal pesiar MV Hondius, yang sedang berlayar dari Argentina menuju Kepulauan Canary, Spanyol.
Sebanyak 6 orang di antaranya terkonfirmasi positif, lalu 2 orang berstatus suspek atau diduga terinfeksi. Dari seluruh kasus ini, 3 orang di antaranya meninggal.
Hantavirus adalah virus yang bisa menyebabkan gangguan paru-paru dan ginjal. Penyakit ini tergolong zoonosis karena ditularkan melalui hewan pengerat, salah satunya tikus.
Menurut WHO, kasus hantavirus relatif jarang ditemukan secara global. Namun, penyakit ini memiliki tingkat kematian atau case fatality rate (CFR) yang tinggi, terutama di kawasan Amerika.
"Infeksi hantavirus dikaitkan dengan angka kematian kasus sebesar <1–15% di Asia dan Eropa, dan hingga 50% di Amerika," kata WHO dalam laporan Disease Outbreak News edisi 8 Mei 2026.
"Meskipun belum ada pengobatan atau vaksin berlisensi untuk infeksi hantavirus, perawatan suportif dini dan rujukan segera ke fasilitas dengan ICU lengkap dapat meningkatkan peluang kelangsungan hidup," lanjutnya.
Berdasarkan penjelasan WHO, infeksi hantavirus pada manusia umumnya terjadi karena kontak dengan urine, feses, atau air liur hewan pengerat, seperti mencit dan tikus.
Infeksi hantavirus pada manusia umumnya dilaporkan terjadi di lingkungan perdesaan, seperti hutan, ladang, dan pertanian, di mana ada hewan pengerat dan peluang paparannya lebih besar.
Penyakit hantavirus ditandai dengan sakit kepala, pusing, menggigil, demam, mialgia (nyeri otot), dan gejala gastrointestinal, seperti mual, muntah, diare, dan sakit perut, diikuti gangguan pernapasan mendadak dan hipotensi (tekanan darah rendah).
Gejalanya biasanya muncul antara 1-6 minggu, tapi bisa juga sampai 8 minggu, setelah paparan awal terhadap virus.
(Baca: Indonesia Jadi Negara dengan Kasus TB Terbanyak Kedua Global pada 2024)