Penyebaran penyakit super flu atau influenza A berkode H3N2 subclade K semakin masif di Amerika Serikat (AS).
Berdasarkan Data Centers for Disease Control and Prevention/CDC) AS yang diberitakan CNN, setidaknya ada 7,5 juta kasus dari penyakit ini. Sebanyak 81 ribu telah dirawat inap dan 3.100 meninggal akibat flu yang terjadi pada musim ini, data per 20 Desember 2025.
Negara bagian AS dengan kasus paling tinggi adalah Colorado, Louisiana, New Jersey, New York, dan South Carolina.
Menurut pengamatan Direktur Center for Infectious Disease Research and Policy dari University of Minnesota, Michael Osterholm, musim flu di wilayah itu memang baru saja dimulai. Akan tetapi, masih sangat sulit untuk memastikan perkembangan kasus ini.
“Apa yang kita lihat saat ini adalah lonjakan kasus yang sangat cepat," kata Michael Osterholm kepada CNN.
Perkembangan Kasus Super Flu di Indonesia
Melansir Katadata, Kementerian Kesehatan mendeteksi subclade K telah ada di Indonesia sejak Agustus 2025 melalui sistem surveilans sentinel ILI-SARI di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan.
Temuan itu diperkuat oleh hasil pemeriksaan whole genome sequencing (WGS) yang rampung pada 25 Desember 2025 mengonfirmasi keberadaan varian tersebut.
Dari total 843 spesimen influenza yang terkonfirmasi positif, Kemenkes telah memeriksa 348 sampel melalui WGS. Seluruh varian yang teridentifikasi merupakan varian yang sudah dikenal dan saat ini beredar secara global dalam sistem surveilans WHO.
Sampai akhir Desember 2025, Kemenkes mencatat 62 kasus influenza A(H3N2) subclade K yang tersebar di delapan provinsi, dengan jumlah kasus terbanyak berada di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat. Mayoritas pasien berasal dari kelompok perempuan dan usia anak.
Penyakit flu ini juga terdeteksi pertama di AS pada Agustus 2025. Varian ini sedikitnya sudah merambah ke 80 negara.
Superflu merujuk pada subclade K, cabang baru dari virus influenza A (H3N2) yang selama puluhan tahun telah beredar sebagai flu musiman.
Melansir situs web aliansi global untuk vaksin dan imunisasi, Gavi.org, para ilmuwan pertama kali mendeteksi subclade K pada pertengahan 2025. Mereka mencatat penyebaran yang cepat di sejumlah negara, seperti Inggris, Jepang, dan beberapa wilayah Eropa.
Meski membawa sejumlah mutasi genetik, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menilai subclade K tidak menunjukkan pola evolusi yang tidak biasa maupun gejala yang lebih berat dibandingkan virus influenza H3N2 lainnya.
“Hingga saat ini kami tidak melihat adanya tanda-tanda evolusi virus yang luar biasa atau mengkhawatirkan,” kata Direktur World Influenza Centre The Francis Crick Institute, Nicola Lewis.
Direktur Penyakit Menular Kemenkes, Prima Yosephine, menjelaskan pasien super flu umumnya mengalami gejala yang serupa dengan flu musiman, seperti demam, batuk, pilek, sakit kepala, dan nyeri tenggorokan.
(Baca Katadata: 62 Kasus Superflu di Indonesia: Masuk Sejak Agustus, Pasien Mayoritas Anak)