Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat produksi padi di Sulawesi Tenggara pada tahun 2024 sebesar 555.836,08 Ton. Data historis menunjukkan fluktuasi produksi padi selama 32 tahun terakhir. Pada tahun 2024, terjadi peningkatan produksi sebesar 15.94% dibandingkan tahun sebelumnya, yang merupakan sinyal positif bagi sektor pertanian di provinsi ini. Peningkatan ini mengindikasikan adanya perbaikan dalam metode pertanian, penggunaan bibit unggul, atau faktor cuaca yang mendukung.
Produksi padi Sulawesi Tenggara dalam lima tahun terakhir menunjukkan kondisi yang fluktuatif. Kenaikan tertinggi terjadi pada tahun 2017 sebesar 21.15%, sedangkan penurunan terendah terjadi pada tahun 2023 turun 9.64%. Dibandingkan rata-rata produksi padi selama tiga tahun terakhir (2021-2023) sebesar 513.586,85 Ton, produksi tahun 2024 menunjukkan peningkatan yang signifikan. Namun, jika dibandingkan dengan rata-rata lima tahun terakhir (2019-2023) sebesar 554.148,17 Ton, produksi tahun 2024 hanya sedikit lebih tinggi.
(Baca: Jumlah Sekolah SMA di Sumatera Barat 2018 - 2024)
Secara regional, Sulawesi Tenggara menempati peringkat ke-3 produksi padi di Pulau Sulawesi pada tahun 2024. Peringkat ini sama dengan tahun sebelumnya. Di tingkat nasional, Sulawesi Tenggara berada di peringkat ke-17. Meskipun peringkat ini cukup baik, terdapat potensi untuk meningkatkan produksi padi agar dapat bersaing dengan provinsi-provinsi lain yang memiliki produksi lebih tinggi. Peningkatan produksi dapat dicapai melalui investasi dalam teknologi pertanian, pelatihan petani, dan perbaikan infrastruktur irigasi.
Kenaikan produksi padi tertinggi dalam data historis terjadi pada tahun 2017, yang menunjukkan adanya faktor-faktor pendukung yang signifikan pada tahun tersebut. Sementara itu, penurunan terendah terjadi pada tahun 2023, yang bisa disebabkan oleh faktor cuaca ekstrem atau serangan hama dan penyakit. Perubahan iklim menjadi tantangan yang semakin nyata bagi sektor pertanian, sehingga perlu adanya adaptasi dan mitigasi untuk menjaga stabilitas produksi padi di masa depan.
Anomali terjadi pada tahun 2020, ketika produksi padi mengalami penurunan tajam turun 24.25%. Kondisi ini berbeda dengan tren positif yang terjadi pada tahun-tahun sebelumnya. Penurunan ini perlu menjadi perhatian serius bagi pemerintah dan pemangku kepentingan terkait agar dapat mengidentifikasi penyebabnya dan mengambil langkah-langkah pencegahan agar tidak terulang di masa depan. Data ini mengindikasikan pentingnya pemantauan dan evaluasi secara berkala terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi produksi padi.
Sulawesi Tengah
Provinsi Sulawesi Tengah menempati urutan ke-2 di Pulau Sulawesi dengan produksi padi mencapai 761.936,39 Ton. Angka ini menunjukkan penurunan sebesar 7.24% dibandingkan tahun sebelumnya. Meskipun mengalami penurunan, Sulawesi Tengah tetap menjadi salah satu produsen padi utama di pulau tersebut. Penurunan ini bisa disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk perubahan iklim dan berkurangnya lahan pertanian. Di tingkat nasional, Sulawesi Tengah berada di peringkat ke-14, mengindikasikan kontribusi yang signifikan terhadap produksi padi nasional. Dibandingkan dengan daerah lain di Sulawesi, hasil produksi padi di Sulawesi Tengah lebih baik.
(Baca: Jumlah Penduduk dan Persentase Kemiskinan di Kabupaten Puncak Jaya Periode 2004 - 2024)
Nusa Tenggara Timur
Nusa Tenggara Timur (NTT) berada di peringkat ke-15 secara nasional dengan produksi padi sebesar 707.792,54 Ton. NTT menempati urutan ke-2 di wilayah Nusa Tenggara dan Bali. Terjadi penurunan produksi sebesar 7.7% dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan ini merupakan tantangan bagi sektor pertanian di NTT, mengingat padi adalah komoditas penting bagi masyarakat setempat. Upaya-upaya peningkatan produktivitas perlu dilakukan untuk mengatasi penurunan ini dan meningkatkan kesejahteraan petani.
Bali
Pulau Bali menempati posisi ke-16 secara nasional dengan total produksi padi sebanyak 635.473,35 Ton. Bali menduduki peringkat ke-3 di wilayah Nusa Tenggara dan Bali. Pertumbuhan produksi padi mengalami penurunan turun 5.66% dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan ini perlu diwaspadai karena Bali juga dikenal sebagai daerah agraris yang mengandalkan sektor pertanian. Peningkatan teknologi dan manajemen pertanian dapat membantu mengatasi penurunan ini.
DI Yogyakarta
Dengan produksi padi sebesar 452.831,77 Ton, DI Yogyakarta menduduki peringkat ke-18 secara nasional. DI Yogyakarta menduduki peringkat ke-5 di Pulau Jawa. Provinsi ini mengalami penurunan produksi padi turun 15.22% dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan ini cukup signifikan dan perlu mendapatkan perhatian serius dari pemerintah daerah. Program-program peningkatan produktivitas dan ketahanan pangan perlu diintensifkan untuk menjaga stabilitas produksi padi di DI Yogyakarta. Penurunan yang signifikan ini perlu menjadi perhatian pemerintah daerah.
Kalimantan Tengah
Kalimantan Tengah berada di peringkat ke-19 secara nasional dengan produksi padi sebesar 366.146,82 Ton. Daerah ini menempati urutan ke-3 di Pulau Kalimantan. Kalimantan Tengah menunjukkan pertumbuhan positif sebesar 10.69% dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan ini menunjukkan potensi besar sektor pertanian di Kalimantan Tengah. Investasi dalam infrastruktur dan teknologi pertanian dapat membantu meningkatkan produksi padi di provinsi ini. Kenaikan yang cukup signifikan ini perlu terus ditingkatkan di tahun-tahun mendatang.
Sulawesi Barat
Sulawesi Barat menduduki peringkat ke-20 secara nasional dengan total produksi padi mencapai 318.876,59 Ton. Sulawesi Barat berada di urutan ke-4 di Pulau Sulawesi. Terjadi pertumbuhan produksi padi sebesar 9.41% dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini menunjukkan potensi sektor pertanian di Sulawesi Barat. Upaya-upaya peningkatan produktivitas dan diversifikasi komoditas pertanian perlu terus dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan petani di provinsi ini. Pertumbuhan ini perlu terus dipacu untuk meningkatkan perekonomian di daerah Sulawesi Barat.