Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah desa di DI Yogyakarta yang sebagian besar keluarga menggunakan LPG lebih dari 3 kg untuk memasak pada tahun 2024 sebanyak 395 keluarga. Data historis menunjukkan fluktuasi, dengan nilai tertinggi pada tahun 2021 sebanyak 399 keluarga. Terjadi penurunan pada tahun 2024 sebesar 3.67% dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan tertinggi terjadi pada tahun 2020 dengan pertumbuhan 39800%.
Dibandingkan rata-rata tiga tahun terakhir (2020-2021 dan 2024) sebesar 391.67 keluarga, jumlah pada tahun 2024 lebih tinggi sekitar 0.85%. Namun, jika dibandingkan rata-rata lima tahun terakhir (2019-2021 dan 2024), sebesar 322.2 keluarga, tahun 2024 jauh lebih baik dengan pertumbuhan 22.59%. Ranking DI Yogyakarta menurut pulau Jawa berada di peringkat 5 pada tahun 2024, sama dengan tahun sebelumnya. Peringkat se-Indonesia berada di urutan ke-26.
(Baca: Pengeluaran Perkapita Sebulan untuk Aneka Barang dan Jasa Kota Batu | 2024)
Pada tahun 2020, DI Yogyakarta mengalami anomali pertumbuhan yang sangat tinggi. Jika dibandingkan dengan rata-rata tiga tahun sebelumnya (2018-2019), pertumbuhan melonjak drastis.
Dibandingkan provinsi lain di Pulau Jawa, DI Yogyakarta menempati peringkat nilai tengah, dengan beberapa provinsi memiliki jumlah desa dengan penggunaan LPG lebih tinggi. Secara nasional, DI Yogyakarta berada di kelompok tengah bawah dalam hal ini.
Pertumbuhan penggunaan LPG di DI Yogyakarta menunjukkan dinamika yang menarik, dengan fluktuasi yang perlu dianalisis lebih lanjut untuk memahami faktor-faktor yang mempengaruhinya.
Gorontalo
Gorontalo menduduki peringkat ke-5 di Pulau Sulawesi dengan nilai terakhir 478 keluarga. Meskipun demikian, terjadi penurunan sebesar 8.95% dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan ini menghasilkan selisih negatif turun 47 keluarga. Rata-rata pertumbuhan dalam lima tahun terakhir menunjukkan fluktuasi yang signifikan. Secara nasional, Gorontalo menempati peringkat ke-23.
(Baca: Jumlah Penduduk dan Persentase Kemiskinan di Kabupaten Kota Waringin Barat Periode 2004 - 2024)
Nusa Tenggara Timur
Nusa Tenggara Timur (NTT) menempati peringkat ke-3 di wilayah Nusa Tenggara dan Bali dengan nilai terakhir 477 keluarga. Pertumbuhan yang sangat mencolok sebesar 81.37% menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Peningkatan ini menghasilkan selisih positif sebesar 214 keluarga. Secara nasional, NTT berada di peringkat ke-24.
Kalimantan Utara
Kalimantan Utara menempati peringkat ke-5 di Pulau Kalimantan dengan nilai terakhir 406 keluarga. Pertumbuhan sebesar 12.47% menunjukkan peningkatan yang cukup baik dibandingkan tahun sebelumnya. Peningkatan ini menghasilkan selisih positif sebesar 45 keluarga. Secara nasional, Kalimantan Utara menduduki peringkat ke-25.
Kep. Bangka Belitung
Kepulauan Bangka Belitung menempati peringkat ke-9 di Pulau Sumatera dengan nilai terakhir 383 keluarga. Terjadi penurunan tipis turun 0.78% dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan ini menghasilkan selisih negatif turun 3 keluarga. Secara nasional, Kepulauan Bangka Belitung menduduki peringkat ke-27.
Kep. Riau
Kepulauan Riau menempati peringkat ke-10 di Pulau Sumatera dengan nilai terakhir 351 keluarga. Pertumbuhan stagnan sebesar 0% menunjukkan tidak adanya perubahan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Secara nasional, Kepulauan Riau menduduki peringkat ke-28.
Sulawesi Barat
Sulawesi Barat menduduki peringkat ke-6 di Pulau Sulawesi dengan nilai terakhir 326 keluarga. Penurunan turun 2.4% menunjukkan penurunan tipis dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan ini menghasilkan selisih negatif turun 8 keluarga. Secara nasional, Sulawesi Barat menduduki peringkat ke-29.