Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data PDRB Pengeluaran Perubahan Inventori Jawa Barat tahun 2025 harga konstan 2010 sebesar 244,45 Rp juta. Pada tahun 2025, nilai ini mengalami penurunan sebesar 67,42 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sepanjang periode 2010-2025, pertumbuhan tertinggi terjadi pada tahun 2012 dengan kenaikan 67,84 persen, sementara penurunan terdalam tercatat pada tahun 2021 dengan kontraksi mencapai 152,21 persen.
(Baca: Nilai PDRB ADHB Pengadaan Air Pengelolaan Sampah Limbah dan Daur Ulang Periode 2013-2025)
Rata-rata pertumbuhan 3 tahun terakhir Jawa Barat pada indikator ini tercatat minus 39,97 persen, kondisi yang lebih buruk dibandingkan rata-rata 5 tahun terakhir yang mencatat minus 57,71 persen. Ranking provinsi ini di Pulau Jawa tetap berada di peringkat 5 sejak tahun 2023, sedangkan secara nasional peringkat Jawa Barat turun dari posisi 10 pada tahun 2024 menjadi peringkat 17 di tahun 2025.
Sepanjang 10 tahun pertama periode data, Jawa Barat secara konsisten menempati peringkat 1 tertinggi se-Indonesia untuk indikator perubahan inventori. Anomali penurunan drastis pertama kali terjadi pada tahun 2020, yang menggeser posisi Jawa Barat dari puncak peringkat nasional hingga ke posisi 33 pada tahun 2021 sebelum kembali melakukan pemulihan secara bertahap.
Aceh
Aceh menempati peringkat 14 se-Indonesia untuk indikator yang sama pada tahun 2025, dengan nilai akhir tercatat 388,71 Rp juta. Pertumbuhan tahunan wilayah ini mencapai 77,62 persen, menjadi salah satu peningkatan tertinggi diantara seluruh provinsi yang dibandingkan. Secara nilai absolut, Aceh mencatat angka lebih besar 58,9 persen dibandingkan nilai Jawa Barat tahun 2025, dan menempati urutan pertama dari kelompok 6 provinsi perbandingan.
Bengkulu
Bengkulu berada di peringkat 15 secara nasional dengan nilai PDRB perubahan inventori 346,46 Rp juta tahun 2025. Wilayah ini mencatat pertumbuhan paling tinggi sebesar 644,12 persen pada periode tahun berjalan, angka yang jauh melampaui seluruh provinsi lain dalam daftar perbandingan. Meskipun pertumbuhan sangat tinggi, nilai absolut Bengkulu masih sedikit dibawah catatan Aceh, namun tetap 41,7 persen lebih besar dibandingkan catatan Jawa Barat.
(Baca: Jumlah Penduduk dan Persentase Kemiskinan di Kota Kediri | 2004 - 2025)
Kalimantan Utara
Kalimantan Utara menempati peringkat 16 nasional dengan nilai akhir 256,51 Rp juta, hanya sedikit diatas nilai Jawa Barat. Pertumbuhan wilayah ini tercatat sangat stabil sebesar 0,84 persen pada tahun 2025, tanpa fluktuasi besar seperti yang dialami sebagian besar wilayah lain. Secara ranking pulau, Kalimantan Utara berada di posisi 2 di wilayahnya, dan menjadi satu-satunya provinsi dari pulau Kalimantan yang masuk dalam kelompok perbandingan ini.
Sulawesi Selatan
Sulawesi Selatan tercatat di peringkat 18 secara nasional, tepat satu peringkat dibawah Jawa Barat pada tahun 2025. Nilai indikator wilayah ini mencapai 235,10 Rp juta, sedikit lebih rendah dibandingkan catatan Jawa Barat sebesar 244,45 Rp juta. Pertumbuhan Sulawesi Selatan tercatat minus 1,67 persen, kontraksi yang jauh lebih kecil dibandingkan penurunan 67,42 persen yang dialami Jawa Barat pada periode yang sama.
Gorontalo
Gorontalo menempati peringkat 19 se-Indonesia dengan nilai PDRB perubahan inventori 230,31 Rp juta tahun 2025. Wilayah ini mengalami penurunan sebesar 32,08 persen dibandingkan tahun sebelumnya, kontraksi yang masih setengah dari tingkat penurunan yang terjadi di Jawa Barat. Secara ranking pulau Sulawesi, Gorontalo berada di urutan kedua dari tiga provinsi Sulawesi yang tercatat dalam data perbandingan.
Sulawesi Barat
Sulawesi Barat berada di peringkat 20 secara nasional, dengan nilai akhir indikator tercatat 229,24 Rp juta. Wilayah ini mengalami penurunan terbesar dalam kelompok perbandingan yaitu sebesar 67,73 persen, angka yang hampir identik dengan tingkat penurunan Jawa Barat pada tahun 2025. Secara nilai absolut, Sulawesi Barat mencatat angka 6,2 persen lebih rendah dibandingkan catatan Jawa Barat di tahun yang sama.