Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data kemiskinan Kota Kediri semester 2025. Persentase penduduk miskin berada di angka 6,04 persen, turun sebesar 0,47 persen dari tahun sebelumnya. Jumlah penduduk miskin tercatat 17.930 jiwa, turun 1.310 jiwa dibandingkan 2024. Angka ini menempatkan Kota Kediri di peringkat 380 se-Indonesia dan peringkat 90 se-Pulau Jawa.
(Baca: Jumlah Penduduk dan Persentase Kemiskinan di Kabupaten Donggala | 2004 - 2025)
Selama periode 2004 hingga 2025, persentase kemiskinan Kota Kediri mencapai angka tertinggi pada tahun 2006 sebesar 13,85 persen. Angka terendah tercatat pada tahun 2025 ini. Selama 21 tahun pencatatan, terjadi kenaikan persentase kemiskinan sebanyak 7 kali, sisanya tercatat penurunan. Penurunan kemiskinan terbesar terjadi pada tahun 2008 sebesar 14,34 persen, sedangkan kenaikan tertinggi terjadi pada 2015 sebesar 7,04 persen.
Rata-rata persentase kemiskinan Kota Kediri selama 3 tahun terakhir adalah 6,57 persen, sedangkan rata-rata 5 tahun terakhir sebesar 6,92 persen. Peringkat nasional Kota Kediri untuk indikator kemiskinan terus bergeser dari peringkat 251 pada 2004 menjadi peringkat 380 pada 2025. Artinya, semakin banyak kabupaten/kota lain di Indonesia yang berhasil mencatatkan persentase kemiskinan lebih rendah dibandingkan Kota Kediri.
Kabupaten Banyuwangi
Berada di peringkat 374 se-Indonesia, wilayah ini mencatatkan persentase kemiskinan 6,13 persen dengan penurunan sebesar 6,27 persen pada tahun terakhir. Terdapat 100.130 jiwa penduduk miskin di wilayah ini, angka terbesar dibandingkan seluruh wilayah pembanding. Garis kemiskinan berada di angka 485,01 ribu rupiah per kapita per bulan, dengan pendapatan per kapita sebesar 67,08 juta rupiah per tahun.
Kota Blitar
Peringkat 347 se-Indonesia, persentase kemiskinan tercatat 6,60 persen dengan penurunan sedikit sebesar 2,22 persen tahun terakhir. Jumlah penduduk miskin berada di angka 9.690 jiwa. Garis kemiskinan mencapai 625,34 ribu rupiah per kapita per bulan, sedangkan pendapatan per kapita masyarakat tercatat 63,15 juta rupiah per tahun. Pertumbuhan penurunan kemiskinan wilayah ini merupakan yang paling lambat diantara seluruh wilayah pembanding.
(Baca: Garis Kemiskinan Makanan dan Nonmakanan Sumatera Selatan Desember 2025: Naik Jadi Rp.581,7 Ribu per Kapita/Bulan)
Kota Mojokerto
Wilayah ini menempati peringkat 423 se-Indonesia, menjadi wilayah dengan persentase kemiskinan terendah di kelompok pembanding yaitu 5,05 persen. Penurunan kemiskinan mencapai 9,34 persen, menjadi penurunan terbesar diantara seluruh wilayah yang dibandingkan. Garis kemiskinan tercatat 630,96 ribu rupiah per kapita per bulan, dengan pendapatan per kapita masyarakat 66,24 juta rupiah per tahun.
Kota Pasuruan
Berada di peringkat 368 se-Indonesia, persentase kemiskinan tercatat 6,18 persen dengan penurunan sedikit sebesar 2,22 persen pada tahun terakhir. Jumlah penduduk miskin tercatat 12.830 jiwa. Garis kemiskinan wilayah ini mencapai 588,31 ribu rupiah per kapita per bulan, sedangkan pendapatan per kapita masyarakat tercatat 54,01 juta rupiah per tahun.
Kota Probolinggo
Peringkat 401 se-Indonesia, wilayah ini mencatatkan persentase kemiskinan 5,69 persen dengan penurunan sebesar 7,93 persen tahun terakhir. Jumlah penduduk miskin tercatat 14.110 jiwa. Garis kemiskinan merupakan yang tertinggi di kelompok pembanding yaitu 683,24 ribu rupiah per kapita per bulan, dengan pendapatan per kapita masyarakat sebesar 65,48 juta rupiah per tahun.
Kabupaten Tulungagung
Berada di peringkat 386 se-Indonesia, persentase kemiskinan tercatat 5,96 persen dengan penurunan sebesar 5,10 persen pada tahun terakhir. Terdapat 63.170 jiwa penduduk miskin di wilayah ini. Garis kemiskinan merupakan yang terendah di kelompok pembanding yaitu 463,36 ribu rupiah per kapita per bulan, dengan pendapatan per kapita masyarakat tercatat 49,49 juta rupiah per tahun.