Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi bulanan di Nusa Tenggara Barat (NTB) pada Oktober 2025 sebesar 0.22 persen. Angka ini menunjukkan adanya kenaikan dibandingkan bulan sebelumnya yang turun 0.41 persen. Meskipun demikian, jika dibandingkan dengan rata-rata tiga bulan terakhir (Juli-September 2025) yang sebesar 0.12 persen, inflasi pada Oktober sedikit lebih tinggi. Sementara, jika dibandingkan lima bulan terakhir (Juni-Oktober 2025) yang sebesar 0.00 persen, inflasi bulan ini menunjukkan pertumbuhan yang lebih baik.
Secara historis, fluktuasi inflasi di NTB cukup signifikan. Pada periode Januari-Oktober 2025, inflasi tertinggi terjadi pada April 2025, mencapai 2.04 persen, sementara penurunan terendah terjadi pada Februari 2025 yaitu -0.6 persen. Kenaikan tertinggi pada April 2025 merupakan anomali jika dibandingkan dengan bulan-bulan sebelumnya dan sesudahnya, dengan selisih yang cukup besar. Setelah itu, inflasi cenderung fluktuatif dengan beberapa kali mengalami kenaikan dan penurunan.
(Baca: Top 10 Tiktokers dengan Follower Terbanyak 13 Dec 2025)
Dalam lingkup Nusa Tenggara dan Bali, NTB menempati urutan pertama inflasi tertinggi pada bulan Oktober 2025. Secara nasional, NTB berada di urutan ke-10. Hal ini menunjukkan bahwa NTB mengalami tekanan inflasi yang relatif lebih tinggi dibandingkan provinsi lain di pulau tersebut, dan berada di posisi tengah secara nasional.
Kenaikan inflasi tertinggi di NTB terjadi pada April 2025 sebesar 2.04 persen. Sementara penurunan terendah terjadi pada Februari 2025 yaitu -0.6 persen. Fluktuasi ini menunjukkan bahwa inflasi di NTB cukup dinamis dan dipengaruhi oleh berbagai faktor.
Secara keseluruhan, inflasi di NTB pada Oktober 2025 menunjukkan adanya kenaikan dibandingkan bulan sebelumnya. Namun, perlu diperhatikan fluktuasi inflasi yang cukup signifikan sepanjang tahun 2025, dengan kenaikan tertinggi terjadi pada April dan penurunan terendah pada Februari. Pemerintah daerah perlu terus memantau perkembangan inflasi dan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menjaga stabilitas harga.
Kalimantan Selatan
Kalimantan Selatan mencatatkan inflasi sebesar 0.36 persen, menempati urutan ke-8 se-Indonesia. Pertumbuhan inflasi bulan ini mengalami kenaikan 24.14 persen dari bulan sebelumnya. Namun, jika dibandingkan dengan daerah lain di Kalimantan, Kalimantan Selatan berada di urutan ke-2. Nilai ini menunjukkan tekanan harga yang cukup signifikan di wilayah tersebut.
(Baca: Jumlah Penduduk dan Persentase Kemiskinan di Kabupaten Sekadau Periode 2005 - 2024)
Kep. Riau
Kepulauan Riau memiliki nilai inflasi yang sama dengan Kalimantan Selatan yaitu 0.36 persen, juga menempati urutan ke-8 secara nasional. Namun, dibandingkan bulan sebelumnya, Kepulauan Riau mengalami penurunan pertumbuhan turun 43.75 persen. Meskipun demikian, Kepulauan Riau berada di urutan ke-3 di wilayah Sumatera. Data ini menunjukkan bahwa inflasi di Kepulauan Riau perlu diwaspadai.
Papua Tengah
Papua Tengah mencatatkan inflasi sebesar 0.32 persen, menduduki peringkat ke-11 secara nasional. Meskipun demikian, Papua Tengah mengalami pertumbuhan inflasi yang sangat signifikan dibandingkan bulan sebelumnya, turun 1166.67 persen. Hal ini mengantarkan Papua Tengah menduduki urutan pertama di wilayah Papua. Data ini menunjukkan bahwa inflasi di Papua Tengah menjadi perhatian khusus.
DKI Jakarta
DKI Jakarta mencatatkan inflasi sebesar 0.31 persen, menempati urutan ke-12 se-Indonesia. Dibandingkan bulan sebelumnya, DKI Jakarta mengalami pertumbuhan inflasi sebesar 138.46 persen. Namun, jika dibandingkan dengan provinsi lain di Jawa, DKI Jakarta berada di urutan ke-5. Data ini menunjukkan bahwa meskipun terdapat kenaikan, inflasi di DKI Jakarta masih terkendali dibandingkan daerah lainnya.
Jawa Timur
Jawa Timur mencatatkan inflasi sebesar 0.30 persen, menempati urutan ke-13 secara nasional. Pertumbuhan inflasi di Jawa Timur mengalami kenaikan sebesar 30.43 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Jawa Timur berada di urutan ke-6 di wilayah Jawa. Data ini menunjukkan bahwa inflasi di Jawa Timur perlu diwaspadai.