Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pengeluaran per kapita sebulan untuk perawatan kulit di Kabupaten Brebes tahun 2024 mencapai 44.797 rupiah. Angka ini menunjukkan pertumbuhan sebesar 9,8 persen dibandingkan tahun sebelumnya, di mana pengeluaran tahun 2023 sebesar 40.792 rupiah. Selisih pengeluaran antara kedua tahun tersebut mencapai 4.004,9 rupiah per kapita sebulan.
(Baca: Populasi Sapi Potong Jantan yang Bisa Dipotong Periode 2013-2025)
Data historis dari tahun 2018 hingga 2024 menunjukkan pengeluaran perawatan kulit di Kabupaten Brebes mengalami fluktuasi yang jelas. Tahun 2018, pengeluaran sebesar 30.591 rupiah, lalu sedikit turun menjadi 26.590 rupiah pada tahun 2019. Setelah itu, pengeluaran naik menjadi 33.399 rupiah pada 2020, terus meningkat hingga mencapai pengeluaran tertinggi sebesar 45.333 rupiah pada tahun 2022. Tahun 2023, pengeluaran sedikit turun menjadi 40.792 rupiah sebelum kembali naik pada tahun 2024.
Dibandingkan dengan rata-rata pengeluaran per kapita sebulan untuk aneka barang jasa sebesar 183.771 rupiah, pengeluaran perawatan kulit hanya menyumbang sekitar 24,38 persen dari total tersebut. Sementara itu, pengeluaran perawatan kulit juga lebih tinggi dibandingkan rata-rata pengeluaran per kapita sebulan untuk kecantikan sebesar 28.900 rupiah, namun lebih rendah dibandingkan pengeluaran untuk sabun mandi sebesar 53.628 rupiah dan rokok serta tembakau sebesar 116.542 rupiah.
Dalam perbandingan antar kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah, Kabupaten Brebes menempati peringkat ke-23 untuk pengeluaran perawatan kulit tahun 2024. Peringkat ini berada di bawah Kabupaten Cilacap (peringkat 22) dan di atas Kabupaten Kebumen (peringkat 24). Secara nasional, Kabupaten Brebes menempati peringkat ke-350 di antara seluruh kabupaten/kota di Indonesia, dan peringkat ke-84 di Pulau Jawa.
Lima kabupaten/kota di Jawa Tengah dengan pengeluaran perawatan kulit tertinggi tahun 2024 adalah Kota Semarang (95.594 rupiah, pertumbuhan 28,8 persen), Kota Magelang (95.520 rupiah, pertumbuhan 9,4 persen), Kota Surakarta (88.833 rupiah, pertumbuhan 29,4 persen), Kota Tegal (83.543 rupiah, pertumbuhan minus 8,6 persen), dan Kota Salatiga (79.995 rupiah, pertumbuhan 16,2 persen). Semua wilayah ini menempati peringkat 1 hingga 5 di provinsi, dengan pertumbuhan yang bervariasi dari penurunan hingga kenaikan signifikan.
Rata-Rata Pengeluaran Per Kapita Sebulan Bukan Makanan
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat rata-rata pengeluaran per kapita sebulan untuk barang dan jasa bukan makanan di Kabupaten Brebes tahun 2024 sebesar 494.340 rupiah, dengan pertumbuhan sebesar 8,1 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Angka ini menempatkan Kabupaten Brebes pada peringkat ke-29 di antara 35 kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah. Dibandingkan dengan Kota Semarang yang berada di peringkat pertama dengan pengeluaran 1.322.997 rupiah dan pertumbuhan 12,6 persen, pengeluaran Kabupaten Brebes masih jauh lebih rendah. Namun, pertumbuhannya lebih baik daripada Kabupaten Tegal yang mengalami penurunan sebesar 5,3 persen pada tahun yang sama.
(Baca: Persentase Penduduk Miskin Periode 2013-2025)
Rata-Rata Pengeluaran Per Kapita Sebulan Makanan dan Bukan Makanan
Total rata-rata pengeluaran per kapita sebulan untuk makanan dan bukan makanan di Kabupaten Brebes tahun 2024 sebesar 1.103.015 rupiah, yang menunjukkan penurunan sebesar 14,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Peringkat Kabupaten Brebes di provinsi Jawa Tengah adalah ke-25, di bawah Kabupaten Blora (1.180.281 rupiah) dan di atas Kabupaten Purworejo (1.094.765 rupiah). Kota Semarang tetap menjadi wilayah dengan pengeluaran tertinggi di provinsi sebesar 2.237.782 rupiah dengan pertumbuhan 14,3 persen, sementara Kabupaten Wonosobo memiliki pengeluaran terendah sebesar 980.037 rupiah dengan penurunan 14,9 persen.
Rata-Rata Pengeluaran Per Kapita Sebulan Untuk Makanan
Rata-rata pengeluaran per kapita sebulan untuk makanan di Kabupaten Brebes tahun 2024 sebesar 608.675 rupiah, dengan pertumbuhan sebesar 6,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Peringkatnya di provinsi Jawa Tengah adalah ke-23, di bawah Kabupaten Klaten (611.156 rupiah) dan di atas Kabupaten Boyolali (601.052 rupiah). Kota Semarang memiliki pengeluaran makanan tertinggi di provinsi sebesar 914.785 rupiah dengan pertumbuhan 14,7 persen, sedangkan Kabupaten Wonosobo memiliki pengeluaran terendah sebesar 535.488 rupiah dengan pertumbuhan 0,1 persen.
Perbandingan Pengeluaran Makanan dan Non Makanan di Wilayah Terpilih
Di antara wilayah terpilih di Jawa Tengah, Kota Salatiga menunjukkan penurunan signifikan pada pengeluaran bukan makanan sebesar 14,4 persen tahun 2024, meskipun pengeluaran makanan hanya sedikit turun sebesar 5,5 persen. Sementara itu, Kabupaten Klaten mengalami pertumbuhan pengeluaran bukan makanan yang sangat tinggi sebesar 56,7 persen, yang didukung oleh pertumbuhan pengeluaran makanan sebesar 16,4 persen. Kabupaten Blora juga menunjukkan pertumbuhan yang baik pada pengeluaran makanan sebesar 12,7 persen dan bukan makanan sebesar 21,2 persen, menunjukkan peningkatan daya beli masyarakat di wilayah tersebut.