Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat PDRB ADHK Sektor Tanaman Perkebunan Provinsi Papua Barat Daya pada tahun 2025 tercatat sebesar 223,5 Rp miliar. Berdasarkan data historis 3 tahun terakhir, nilai ini mengalami penurunan sedikit sebesar 0,35 persen dibandingkan tahun 2024, dengan selisih nilai turun 0,78 Rp miliar. Sepanjang periode 2023 hingga 2025, sektor ini mencatat kenaikan tertinggi terjadi pada tahun 2024 dengan pertumbuhan 5,64 persen, sementara titik terendah nilai sektor tercatat pada tahun 2023 di angka 212,31 Rp miliar.
(Baca: Harga Komoditas Nikel untuk Kontrak 3 Bulan ke Depan Turun Menuju Level US$16.740 /Ton (Jumat, 26 Juni 2026))
Sepanjang 3 tahun periode pencatatan, rata-rata nilai PDRB sektor tanaman perkebunan di wilayah ini berada di angka 220,03 Rp miliar. Nilai tahun 2025 tercatat berada di atas angka rata-rata periode tersebut. Secara keseluruhan tren 3 tahun terakhir menunjukkan arah naik, dengan perubahan total nilai sebesar 5,27 persen sejak tahun 2023, dan pertumbuhan rata-rata tahunan mencapai 2,60 persen. Peringkat Papua Barat Daya di lingkup Pulau Papua masih konsisten berada di urutan 4 selama tiga tahun berturut-turut, sementara peringkat nasional juga tetap di posisi 35 dari seluruh provinsi di Indonesia.
Untuk tahun 2025, nilai PDRB sektor tanaman perkebunan Papua Barat Daya masih berada di atas sejumlah provinsi lain di Pulau Papua. Diantara wilayah perbandingan, Papua Pegunungan mencatat nilai terendah di angka 24,07 Rp miliar, kemudian diikuti Papua Tengah 191,34 Rp miliar. Papua Barat mencatat nilai 518,45 Rp miliar dan Papua Selatan mencapai 648,46 Rp miliar menjadi wilayah dengan nilai terbesar di pulau ini untuk sektor yang sama.
Secara pertumbuhan tahun 2025, seluruh provinsi lain di Pulau Papua mencatat pertumbuhan positif, sementara hanya Papua Barat Daya yang mengalami penurunan sedikit. Papua Pegunungan mencatat pertumbuhan 3,22 persen, Papua Tengah 3,31 persen, Papua Barat 4 persen, sedangkan Papua Selatan justru mengalami penurunan sebesar 1,14 persen. Dengan kondisi ini, peringkat nasional Papua Barat Daya tetap berada di posisi 35, di atas DI Yogyakarta, Papua Tengah dan Papua Pegunungan.
Papua Selatan
Papua Selatan menempati urutan kedua tertinggi di Pulau Papua untuk nilai PDRB ADHK sektor tanaman perkebunan tahun 2025, dengan total nilai mencapai 648,46 Rp miliar. Wilayah ini mencatat penurunan sedikit sebesar 1,14 persen dibandingkan tahun sebelumnya, dengan selisih nilai turun 7,5 Rp miliar. Secara peringkat nasional, wilayah ini berada di posisi 32, menjadi yang tertinggi diantara seluruh provinsi di Pulau Papua untuk indikator sektor ini. Meskipun mengalami penurunan pada tahun terakhir, nilai yang tercatat masih lebih dari 2 kali lipat dibandingkan nilai yang dimiliki Papua Barat Daya pada periode yang sama.
Papua Barat
Papua Barat tercatat memiliki nilai PDRB ADHK sektor tanaman perkebunan sebesar 518,45 Rp miliar pada tahun 2025, dan menempati urutan ketiga di lingkup Pulau Papua. Wilayah ini mencatat pertumbuhan sebesar 4 persen dibandingkan tahun sebelumnya, dengan penambahan nilai sebesar 19,92 Rp miliar. Peringkat nasional wilayah ini berada di angka 33, tepat satu tingkat di bawah Papua Selatan. Pertumbuhan positif yang tercatat pada tahun terakhir menjadi salah satu yang tertinggi diantara seluruh wilayah yang tercatat di Pulau Papua untuk sektor tanaman perkebunan.
(Baca: Jumlah Kepala Sekolah dan Guru SD Lebih dari atau Setara S1 di Sulawesi Tengah 26,46 Ribu Individu (2024))
DI Yogyakarta
DI Yogyakarta mencatat nilai PDRB ADHK sektor tanaman perkebunan sebesar 260,65 Rp miliar pada tahun 2025, dengan pertumbuhan sebesar 3,71 persen dibandingkan periode tahun sebelumnya. Wilayah yang terletak di Pulau Jawa ini menempati peringkat nasional nomor 34, tepat satu tingkat di atas Papua Barat Daya. Nilai yang tercatat hanya selisih sekitar 37,15 Rp miliar di atas nilai yang dimiliki Papua Barat Daya pada tahun yang sama, dengan selisih pertumbuhan mencapai 4,06 persen lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan Papua Barat Daya tahun 2025.
Papua Tengah
Papua Tengah memiliki nilai PDRB ADHK sektor tanaman perkebunan sebesar 191,34 Rp miliar pada tahun 2025, menempati urutan kelima di lingkup Pulau Papua. Wilayah ini mencatat pertumbuhan sebesar 3,31 persen dibandingkan tahun sebelumnya, dengan penambahan nilai sebesar 6,13 Rp miliar. Peringkat nasional wilayah ini berada di angka 36, satu tingkat di bawah peringkat Papua Barat Daya. Nilai yang tercatat pada tahun terakhir berada 32,16 Rp miliar di bawah nilai yang dimiliki Papua Barat Daya untuk indikator sektor yang sama.
Papua Pegunungan
Papua Pegunungan mencatat nilai PDRB ADHK sektor tanaman perkebunan terendah diantara seluruh wilayah perbandingan, yaitu sebesar 24,07 Rp miliar pada tahun 2025. Wilayah ini menempati urutan keenam di Pulau Papua dan peringkat 37 secara nasional. Tercatat pertumbuhan sebesar 3,22 persen dibandingkan tahun sebelumnya, dengan penambahan nilai sebesar 0,75 Rp miliar. Meskipun memiliki nilai terendah, wilayah ini tetap mencatat pertumbuhan positif pada tahun terakhir, berbeda dengan kondisi yang terjadi pada Papua Barat Daya.