Perang Amerika Serikat-Israel versus Iran yang pecah sejak akhir Februari 2026 memicu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di banyak negara.
Berdasarkan data Global Petrol Prices, lonjakan tinggi juga terjadi di negara-negara tetangga Indonesia.
(Baca: Harga BBM Solar dan Bensin Global Terus Naik sampai Awal April 2026)
Di Asia Tenggara, kenaikan harga BBM solar paling tinggi tercatat di Laos.
Sejak sepekan sebelum perang sampai enam pekan pasca-konflik, yakni 23 Februari—6 April 2026, rata-rata harga BBM solar di Laos melonjak 169,5%.
Lonjakan harga BBM solar di Vietnam, Myanmar, Filipina, Kamboja, Malaysia juga melampaui 100%; lalu di Singapura dan Thailand kenaikannya antara 60—65%; sedangkan di Indonesia hanya naik 7,5%.
Kemudian untuk BBM bensin, kenaikan paling tinggi tercatat di Myanmar, yang rata-rata harganya melonjak 93,9% selama periode 23 Februari—6 April 2026.
Sementara persentase kenaikan harga BBM bensin di Filipina, Malaysia, Kamboja, Laos, Vietnam, Thailand, dan Singapura berkisar antara 13—68%; dan di Indonesia hanya 2,8%, seperti terlihat pada grafik.
Menurut Global Petrol Prices, tingkat kenaikan harga BBM bervariasi di setiap negara karena pemerintahnya memiliki kebijakan yang berbeda-beda.
"Di negara-negara dengan pasar bahan bakar yang liberal, penyesuaian harga BBM biasanya lebih cepat," kata Global Petrol Prices di situs webnya, dikutip 9 April 2026.
"Di negara-negara dengan harga BBM yang diatur, biasanya pemerintah menunggu beberapa pekan untuk menentukan apakah perubahan harga minyak bersifat permanen, sebelum menyesuaikan harga ritel. Jika guncangannya besar, pemerintahnya juga mungkin melakukan intervensi untuk menekan kenaikan harga," lanjutnya.
Global Petrol Prices menghimpun data harga BBM ini dari kementerian/lembaga pemerintah, perusahaan minyak internasional, serta pemberitaan media massa di setiap negara.
(Baca: Kebijakan Berbagai Negara untuk Hadapi Krisis Energi Awal April 2026)