Menurut International Energy Agency (IEA), perang Amerika Serikat-Israel versus Iran yang pecah sejak akhir Februari 2026 telah memicu krisis pasokan minyak.
"Konflik di Timur Tengah menciptakan gangguan pasokan terbesar dalam sejarah pasar minyak global," kata IEA dalam laporan Sheltering from Oil Shocks (Maret 2026).
"Selain menimbulkan kerusakan langsung pada infrastruktur energi di kawasan tersebut, krisis ini telah menyebabkan hampir terhentinya pergerakan kapal tanker melalui Selat Hormuz," kata mereka.
(Baca: Selat Hormuz, Jalur Perdagangan Minyak Terbesar Kedua di Dunia)
Merespons kondisi ini, IEA menawarkan sejumlah opsi penghematan bahan bakar minyak (BBM), supaya rumah tangga, bisnis, dan pemerintah bisa bertahan dari guncangan pasokan.
Opsi pertama adalah berkendara dengan efisien, seperti berbagi tumpangan mobil dengan orang lain, mengurangi penggunaan mobil, serta mengurangi pemakaian pendingin udara dalam mobil.
IEA memperkirakan, praktik berkendara dengan efisien ini bisa mengurangi antara 5% sampai 8% dari total konsumsi BBM mobil di tingkat nasional.
Aktivitas lain yang bisa mendukung penghematan BBM adalah bekerja dari rumah atau working from home (WFH).
Menurut perhitungan IEA, penerapan WFH selama tiga hari per pekan bisa mengurangi antara 2% sampai 6% dari total konsumsi BBM mobil secara nasional.
"Bekerja dari rumah dapat mengurangi konsumsi BBM dari kendaraan pribadi. Meskipun tidak semua pekerjaan bisa menerapkannya, ini bisa menjadi langkah efektif jika pekerjaannya memungkinkan," kata IEA.
IEA juga menyatakan, konsumsi BBM bisa ditekan dengan mengurangi kecepatan mobil saat berkendara, membatasi lalu lintas mobil dengan sistem nomor pelat ganjil-genap, serta mendorong penggunaan transportasi umum.
Berbagai aktivitas tersebut diperkirakan bisa mengurangi konsumsi BBM mobil nasional antara 1% sampai 6%, dengan rincian seperti terlihat pada grafik.
"Dalam menanggapi krisis saat ini, pemerintah dapat memimpin melalui kebijakan untuk sektor publik, maupun melalui peraturan yang disertai dengan informasi dan kampanye," kata IEA.
(Baca: Tiga Pekan Perang di Timur Tengah, Harga Bensin Naik di 106 Negara)