Menurut laporan Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia melakukan impor hasil minyak seberat 37,75 juta ton pada 2025, dengan nilai total US$23,46 miliar.
Komoditas hasil minyak ini mengikuti Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) 2020, yang mencakup bahan bakar minyak (BBM) untuk kendaraan, seperti bensin, solar, avtur, dan berbagai hasil olahan minyak bumi lainnya.
Pada 2025, Singapura menjadi pemasok hasil minyak terbesar untuk Indonesia, menyumbang sekitar 39% dari total volume impor nasional.
Indonesia juga cukup banyak mengimpor hasil minyak dari kawasan Timur Tengah pada 2025, khususnya dari Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Qatar, Kuwait, dan Bahrain.
Jika digabung, 5 negara Timur Tengah tersebut menyumbang sekitar 14% dari total volume impor hasil minyak Indonesia.
(Baca: Arab Saudi, Pemasok Minyak Mentah Terbesar ke-3 untuk RI pada 2025)
Berikut rincian volume impor hasil minyak Indonesia berdasarkan negara pemasoknya pada 2025:
- Singapura: 14,63 juta ton (38,8% dari total volume impor hasil minyak Indonesia)
- Malaysia: 7,84 juta ton (20,8%)
- Uni Emirat Arab: 1,73 juta ton (4,6%)
- Arab Saudi: 1,58 juta ton (4,2%)
- Qatar: 1,33 juta ton (3,5%)
- China: 830,1 ribu ton (2,2%)
- Kuwait: 462,2 ribu ton (1,2%)
- Korea Selatan: 360,2 ribu ton (1%)
- Bahrain: 270,4 ribu ton (0,7%)
- India: 202 ribu ton (0,5%)
- Negara-negara lainnya: 8,51 juta ton (22,5%)
Adapun pasokan minyak dari Timur Tengah pada 2026 berpotensi terganggu. Pasalnya, awal tahun ini Iran memblokade Selat Hormuz, jalur utama pengiriman minyak dari Timur Tengah.
Iran melakukan blokade setelah AS dan Israel menyerang wilayahnya pada akhir Februari 2026.
"Selat itu ditutup. Jika ada yang mencoba melewatinya, Garda Revolusi dan angkatan laut akan membakar kapal-kapal itu,” kata penasihat senior Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), Ebrahim Jabari, disampaikan Al Jazeera, 2 Maret 2026.
(Baca: Ketahanan Stok BBM Indonesia di Bawah Standar Internasional)