Menurut laporan ISEAS-Yusof Ishak Institute, sebanyak 55,9% warga Asia Tenggara masih menganggap China sebagai kekuatan ekonomi paling berpengaruh di kawasan tersebut pada 2026.
Persepsi tersebut paling tinggi dikemukakan warga Malaysia (67,5%), Indonesia (59,7%), dan Timor-Leste (59,7%).
Sementara, hanya 15,3% warga ASEAN yang menganggap Amerika Serikat (AS) sebagai kekuatan ekonomi yang paling berpengaruh di kawasan.
“Negara-negara yang paling positif terhadap hal ini adalah Filipina (27,5%), Singapura (19,1%), dan Thailand (18,1%),” jelas ISEAS-Yusof Ishak Institute dalam The State of Southeast Asia 2026 Survey Report.
Adapun bagi ASEAN, terdapat proporsi responden yang lebih rendah yang menyebut organisasi ini sebagai kekuatan ekonomi paling berpengaruh di kawasannya sendiri, yaitu 13,2% dibanding 14,8% pada 2025.
“Pendukung utama ASEAN adalah Indonesia (19,9%), Timor-Leste (17,9%), dan Filipina (17,5%),” kata ISEAS - Yusof Ishak Institute.
“Meskipun demikian, seluruh negara anggota ASEAN menunjukkan penurunan pangsa suara dari tahun sebelumnya, kecuali Laos, Singapura, dan Thailand,” ucapnya.
Berikut pandangan warga mengenai negara/organisasi regional yang merupakan kekuatan ekonomi paling berpengaruh di Asia Tenggara pada 2026:
- China: 55,9%
- AS: 15,3%
- ASEAN: 13,2%
- Jepang: 7,1%
- Uni Eropa: 3%
- Australia: 1,8%
- India: 1,5%
- Korea Selatan: 1,5%
- Inggris Raya: 0,7%
ISEAS-Yusof Ishak Institute menyurvei 2.008 orang berusia minimal 18 tahun secara daring pada 5 Januari-20 Februari 2026 dengan metode mixed purposive sampling. Responden tersebar di 11 negara Asia Tenggara.
Responden berasal dari lima kategori afiliasi: (a) akademisi, anggota lembaga think tank, atau peneliti; (b) perwakilan sektor swasta; (c) perwakilan masyarakat sipil, LSM, atau media; (d) pejabat pemerintah; dan (e) staf organisasi regional atau internasional.
(Baca: Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi 2026 Negara Asia Tenggara Versi Bank Dunia)