Kinerja sektor manufaktur Vietnam dan Indonesia paling terhantam di antara negara kelompok ASEAN pada Maret 2026.
Ini tercermin dari laporan S&P Global yang menunjukkan, skor Purchasing Managers Index (PMI) Vietnam mencapai 51,2 poin, turun drastis 3,1 poin dari Februari 2026 yang sebesar 54,3.
Sementara Indonesia, tercatat sebesar 50,1 poin pada Maret 2026, terjun 3,7 poin dari Februari yang sebesar 53,8 poin.
Skala skor indeks ditetapkan sebesar 0-100 poin. Skor di bawah 50 mencerminkan adanya pelemahan atau kontraksi; skor 50 artinya stabil atau tak ada perubahan; dan skor di atas 50 menunjukkan penguatan atau ekspansi dibanding bulan sebelumnya.
Kondisi manufaktur Indonesia dan Vietnam berbeda dengan Thailand dan Malaysia yang mengalami peningkatan. Sedangkan Myanmar dan Filipina masih stagnan, seperti terpampang pada grafik.
(Baca: Pertumbuhan dan Kontribusi Industri Pengolahan RI Menguat pada 2025)
S&P Global menyebut, kinerja manufaktur Indonesia dan Vietnam terpukul karena perang di Asia Barat (Timur Tengah) yang dilancarkan Amerika Serikat (AS)-Israel versus Iran.
Di Vietnam, kenaikan harga minyak mendorong peningkatan biaya logistik, bahan bakar, dan transportasi.
"Akibatnya, hampir setengah responden melaporkan kenaikan biaya input selama Maret, dengan laju inflasi yang menjadi yang paling tajam sejak April 2022," kata S&P.
Seiring kenaikan biaya input yang umumnya diteruskan kepada pelanggan, harga output juga meningkat pada salah satu tingkat tercepat sejak survei ini dimulai pada 2011.
Di Indonesia, dampak perang berimbas pada harga dan pasokan bahan baku yang selanjutnya mengganggu permintaan serta produksi barang manufaktur.
Kondisi secara keseluruhan yang masih lemah juga menyebabkan perlambatan aktivitas pembelian, tumpukan pekerjaan, dan ketenagakerjaan.
"Dari sisi harga, inflasi harga input meningkat dibandingkan periode survei sebelumnya dan mencapai level tertinggi sejak bulan Maret 2024," kata S&P.
(Baca: Dampak Perang, Kinerja Manufaktur RI Anjlok pada Maret 2026)