Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, kinerja industri pengolahan Indonesia menunjukkan pemulihan kuat pada 2025.
Berdasarkan produk domestik bruto (PDB) atas dasar harga konstan (ADHK), industri pengolahan tumbuh 5,3% secara tahunan menjadi Rp2,76 kuadriliun dibandingkan dengan 2024. Laju pertumbuhan tersebut merupakan yang tertinggi dalam 13 tahun terakhir.
Selain mencatat pertumbuhan tertinggi, industri manufaktur juga menjadi kontributor terbesar terhadap perekonomian nasional.
Pada 2025, sektor ini menyumbang 19,07% terhadap total PDB nasional yang mencapai Rp23,82 kuadriliun. Porsi tersebut menjadi yang terbesar dalam empat tahun terakhir.
Meski demikian, industri pengolahan masih menghadapi tantangan struktural. Sebagai tulang punggung perekonomian, sektor ini tetap menjadi penyumbang terbesar PDB nasional, namun kontribusinya menunjukkan tren penurunan dalam jangka panjang.
(Baca: Industri Pengolahan Belum Mampu Jadi Penggerak Ekonomi Nasional dalam Sedekade Terakhir)
Dari sisi subsektor, makanan dan minuman menjadi penyumbang terbesar terhadap PDB, sementara beberapa subsektor lain memiliki kontribusi relatif kecil.
Pada 2025, industri pengolahan batu bara dan pengilangan migas menyumbang 1,78% terhadap PDB nasional. Sementara itu, industri pengolahan non-migas berkontribusi 17,28% terhadap PDB, dengan rincian sebagai berikut:
- Makanan dan minuman: 7,13%
- Kimia, farmasi, dan obat tradisional: 1,83%
- Barang ogam; komputer, dan elektronik: 1,60%
- Industri alat angkutan: 1,27%
- Industri logam dasar: 1,15%
- Tekstil dan pakaian jadi: 0,97%
- Industri pengolahan tembakau: 0,68%
- Industri kertas dan barang dari kertas: 0,64%
- Industri barang galian bukan logam: 0,46%
- Industri karet: 0,37%
- Industri kayu: 0,36%
- Mesin dan perlengkapan: 0,28%
- Kulit, barang dari kulit, dan alas kaki: 0,24%
- Industri furnitur: 0,19%
- Pengolahan lainnya: 0,12%
Kinerja positif industri pengolahan pada 2025 ini menegaskan peran strategis sektor manufaktur dalam menopang pertumbuhan ekonomi nasional, serta menunjukkan potensi pemulihan yang lebih kuat ke depan apabila didukung kebijakan dan investasi yang berkelanjutan.
(Baca: Sektor Pertambangan RI Tumbuh Negatif pada 2025, Sektor Lain Positif)