Menurut data Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI), nilai penjualan senjata dan perlengkapan militer di skala global mencapai US$679 miliar pada 2024.
Berdasarkan perhitungan harga konstan, nilainya lebih besar dua kali lipat dibanding penjualan pada tahun 2002, serta menjadi rekor tertinggi baru dalam dua dekade terakhir, seperti terlihat pada grafik.
Adapun SIPRI hanya menghimpun data ini dari 100 perusahaan senjata terbesar yang data penjualannya bisa diakses publik, sehingga belum sepenuhnya mencerminkan tingkat permintaan senjata di seluruh dunia.
(Baca: Peristiwa Konflik Global Meningkat dalam Beberapa Tahun Terakhir)
Penjualan senjata yang makin banyak ini beriringan dengan peningkatan konflik.
Berdasarkan laporan SIPRI Yearbook 2025, jumlah "peristiwa ledakan" di skala global bertambah, dari 54,2 ribu peristiwa pada 2022 menjadi 98,2 ribu peristiwa pada 2024.
SIPRI mendefinisikan "peristiwa ledakan" sebagai insiden di mana satu pihak menyerang pihak lain menggunakan alat peledak atau senjata jarak jauh dengan daya rusak masif, seperti bom, granat, artileri, rudal, pesawat nirawak, bom bunuh diri, dan sebagainya.
Selain ledakan, ada juga peningkatan "peristiwa perang", dari 37,2 ribu peristiwa pada 2022 menjadi 52,5 ribu peristiwa pada 2024.
SIPRI mendefinisikan "peristiwa perang" sebagai aksi kekerasan antara dua kelompok bersenjata yang terorganisasi, mencakup bentrokan pasukan militer antar-negara, negara dengan kelompok non-negara, serta pertempuran kelompok non-negara.
Menurut SIPRI, konflik global memiliki akar masalah yang sangat beragam dan sulit digeneralisasi. Namun, setiap konflik ini terkait dengan industri senjata dan sumber pendanaan tertentu.
"Kekerasan bersenjata membutuhkan sumber daya berupa senjata dan uang untuk belanja militer. Sumber daya ini biasanya berasal dari perpajakan, ekonomi gelap (seperti perdagangan manusia dan narkoba), serta sponsor eksternal (seperti pendanaan dari negara asing atau transfer senjata internasional)," kata SIPRI dalam laporannya.
(Baca: Amerika Serikat, Pemasok Senjata Terbesar Global 2021-2025)