Bank Dunia memproyeksikan rata-rata harga emas di pasar global sepanjang tahun 2026 mencapai US$4.700/troy ons, naik 36,6% dibanding tahun lalu (year-on-year/yoy).
Namun, Bank Dunia memprediksi harga emas akan melemah 8,5% (yoy) pada tahun 2027, hingga rata-ratanya menjadi US$4.300/troy ons.
Kendati melemah, rata-rata harga emas pada tahun 2027 diperkirakan masih jauh lebih tinggi dibanding periode 2010—2025, seperti terlihat pada grafik.
(Baca: Permintaan Emas Global Capai Rekor Tertinggi pada 2025)
Bank Dunia menyatakan proyeksi ini dibayangi ketidakpastian, karena ada banyak faktor yang memengaruhi harga emas.
"Mengingat sensitivitas harga logam mulia terhadap pergeseran sentimen risiko global, permintaan spekulatif, dan kondisi ekonomi makro, prospeknya tetap memiliki ketidakpastian yang cukup besar," kata Bank Dunia dalam laporan Commodity Markets Outlook edisi April 2026.
Menurut Bank Dunia, harga emas bisa naik lebih tinggi dari proyeksi jika ada peningkatan ketegangan perdagangan global, volatilitas pasar keuangan, konflik berkepanjangan di Timur Tengah, atau eskalasi ketegangan geopolitik di tempat lainnya.
Tapi, ada juga berbagai faktor yang bisa membuat harga emas turun hingga lebih rendah dari prediksi.
"Salah satu risiko penurunan muncul dari pengetatan kebijakan moneter di negara-negara ekonomi utama, yaitu jika mereka menaikkan suku bunga untuk merespons inflasi yang kembali meningkat. Hal ini cenderung meningkatkan biaya peluang (opportunity cost) untuk menyimpan logam mulia, yang merupakan aset tanpa bunga," kata Bank Dunia.
"Pelonggaran ketegangan geopolitik secara berkelanjutan juga dapat mengurangi aliran modal ke aset safe-haven. Lalu perlambatan pembelian emas oleh bank sentral dapat menghilangkan sumber dukungan harga," lanjutnya.
(Baca: Permintaan Emas Global untuk Investasi Pecah Rekor pada 2025)