Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), pengeluaran konsumsi rumah tangga Indonesia pada kuartal IV 2025 tumbuh 5,11% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/yoy).
Konsumsi rumah tangga yang dihitung tersebut merupakan salah satu komponen pengeluaran dalam produk domestik bruto (PDB) atas dasar harga konstan (ADHK).
Angka pertumbuhan konsumsi ini kembali naik ke level 5% setelah capaian terakhir pada kuartal III 2023 yang menyentuh 5,05% (yoy).
Pada grafik terlihat, delapan kuartal beruntun, konsumsi rumah tangga Indonesia berada di bawah 5%.
Kendati menguat, angka pertumbuhan konsumsi kuartal akhir 2025 masih lebih rendah dari pertumbuhan ekonominya yang mencapai 5,39% (yoy).
Ini mengindikasikan konsumsi rumah tangga bukan motor utama pertumbuhan di periode tersebut. Selain itu, ada kemungkinan faktor melemahnya daya beli masyarakat.
Komponen Pengeluaran dalam PDB (ctc)
BPS menyampaikan, nilai PDB Indonesia atas dasar harga konstan (ADHK) sebesar Rp13.580,5 triliun.
Dari nilai ADHK itu, ekonomi Indonesia dihitung tumbuh 5,11% secara kumulatif (cumulative-to-cumulative/ctc).
Dalam laporannya, BPS menjabarkan pertumbuhan komponen pengeluaran yang menopang pertumbuhan ekonomi nasional.
Pertumbuhan tertinggi dicapai oleh komponen ekspor barang dan jasa sebesar 7,03% (ctc). Diikuti pengeluaran konsumsi lembaga nonprofit yang melayani rumah tangga (LNPRT) sebesar 5,13% (ctc).
Konsumsi rumah tangga justru di bawahnya, dengan hanya mengantongi 4,98% (ctc).
Berikut daftar lengkap pertumbuhan kelompok pengeluaran dalam PDB secara kumulatif (ctc) pada 2025:
- Ekspor barang dan jasa: 7,03%
- Lembaga nonprofit yang melayani rumah tangga/LNPRT: 5,13%
- Pembentukan modal tetap bruto (PMTB): 5,09%
- Konsumsi rumah tangga: 4,98%
- Pengeluaran konsumsi pemerintah (PK-P): 2,50%
- Impor barang dan jasa (faktor pengurang dalam PDB menurut pengeluaran): 4,77%.
(Baca: Kelompok Pengeluaran Penopang Pertumbuhan Ekonomi RI 2025)