S&P Global merilis, skor Purchasing Managers Index (PMI) Indonesia di level 51,2 poin pada Desember 2025. Angka ini turun dari November 2025 yang tercatat sebesar 53,3 poin.
Indeks tersebut merupakan hasil survei terhadap kalangan manajer dari ratusan sampel perusahaan di industri manufaktur. Indikator surveinya meliputi pertumbuhan volume produksi, pesanan ekspor dan domestik, jumlah tenaga kerja, jangka waktu pengiriman pasokan, serta stok bahan yang dibeli setiap perusahaan.
Skala skor ditetapkan sebesar 0-100 poin. Skor di bawah 50 mencerminkan adanya pelemahan atau kontraksi; skor 50 artinya stabil atau tak ada perubahan; dan skor di atas 50 menunjukkan penguatan atau ekspansi dibanding bulan sebelumnya.
Dalam laporannya, S&P Global menjelaskan, ekspansi sektor manufaktur Indonesia sebenarnya tetap berlanjut, dengan nilai di atas 50. Faktornya ditopang oleh perbaikan pesanan baru.
"Ini menandakan adanya perbaikan kondisi sektor manufaktur untuk lima bulan berturut-turut," tulis S&P Global.
Perusahaan juga mencatat ekspansi berkelanjutan pada tingkat produksi, meskipun laju pertumbuhannya melambat dan hanya bersifat tipis atau marginal.
Di satu sisi, kondisi permintaan yang solid mendorong produsen untuk meningkatkan jumlah tenaga kerja dan aktivitas pembelian guna memenuhi kebutuhan tambahan.
Dari sisi operasional, S&P menilai ada pergerakan yang ditopang karena pesanan baru yang berkelanjutan. Pertumbuhan berlanjut untuk bulan kelima, meskipun lajunya melambat dibandingkan November.
Menurut S&P Global, perusahaan kerap menyebut peluncuran produk baru dan bertambahnya jumlah pelanggan sebagai faktor utama peningkatan penjualan.
"Data menunjukkan bahwa perbaikan tersebut dipimpin oleh pasar domestik, sementara pesanan ekspor baru menurun untuk bulan keempat berturut-turut," kata S&P Global.
Faktor Pelemahan
Meski ada pertumbuhan atau ekspansi, patut diakui bahwa kondisi bisnis manufaktur melemah pada akhir tahun.
S&P Global membeberkan, kenaikan harga bahan baku, kelangkaan pasokan, serta keterlambatan pengiriman berkontribusi terhadap kenaikan biaya input yang kembali signifikan.
"Perusahaan berupaya mengimbangi hal tersebut dengan kenaikan moderat pada harga jual," kata S&P Global.
Peningkatan total pesanan baru mendorong kenaikan produksi lebih lanjut. Ini merupakan kenaikan kedua secara berturut-turut. Namun, kelangkaan bahan baku membatasi laju pertumbuhan, sehingga produksi hanya meningkat secara marginal.
Sejalan dengan meningkatnya permintaan dan kebutuhan produksi, produsen meningkatkan jumlah tenaga kerja pada Desember. Sayangnya, laju penciptaan lapangan kerja tergolong rendah, melambat dibandingkan dengan November, tetapi masih sejalan dengan rata-rata sepanjang 2025.
"Meski jumlah pekerja bertambah, tekanan kapasitas masih terlihat akibat pertumbuhan pesanan baru. Oleh karena itu, perusahaan mencatat kenaikan backlog pekerjaan untuk bulan kedua berturut-turut," kata S&P Global.
(Baca: Industri Manufaktur RI Menguat Awal Kuartal IV 2025, Ditopang Pasar Domestik)