Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data kemiskinan tahun 2024 untuk Kabupaten Boven Digoel, Papua Selatan, yang menunjukkan persentase penduduk miskin sebesar 19,24 persen, turun sedikit 0,56 persen dibanding tahun 2023. Jumlah penduduk miskin mencapai 14.050 orang, turun 1,4 persen dari tahun sebelumnya, sementara total penduduk kabupaten ini meningkat 4,81 persen menjadi 70.400 jiwa. Secara nasional, Kabupaten Boven Digoel menempati peringkat ke-56 untuk persentase kemiskinan, dan peringkat ke-31 di Pulau Papua.
(Baca: Jumlah Sekolah SMA di Sumatera Selatan 2018 - 2024)
Analisis data historis kemiskinan periode 2004-2024 menunjukkan persentase kemiskinan tertinggi terjadi pada tahun 2006 sebesar 29,64 persen, sedangkan terendah pada tahun 2014 sebesar 18,87 persen. Pertumbuhan kemiskinan terendah terjadi pada tahun 2014 dengan penurunan 20,38 persen, dan tertinggi pada tahun 2006 dengan kenaikan 3,06 persen. Rata-rata persentase kemiskinan 3 tahun terakhir (2022-2024) adalah 19,69 persen, sedikit lebih tinggi dibanding rata-rata 5 tahun terakhir (2020-2024) sebesar 19,63 persen. Peringkat nasional persentase kemiskinan kabupaten ini stabil di urutan ke-56 sejak tahun 2022.
Dibandingkan kabupaten tetangga di Papua Selatan, persentase kemiskinan Kabupaten Boven Digoel lebih rendah daripada Kabupaten Mappi (25,7 persen) dan Kabupaten Asmat (24,5 persen), tetapi lebih tinggi daripada Kabupaten Merauke (10,19 persen). Pendapatan per kapita tertinggi di antara keempat kabupaten ini dimiliki oleh Kabupaten Merauke sebesar Rp 85,00 juta per tahun, sedangkan terendah oleh Kabupaten Asmat sebesar Rp 28,77 juta per tahun. Garis kemiskinan tertinggi berada di Kabupaten Asmat sebesar Rp 487,04 ribu per kapita per bulan, diikuti oleh Kabupaten Merauke (Rp 484,22 ribu) dan Kabupaten Mappi (Rp 480,73 ribu).
Kabupaten Mappi
(Baca: Jumlah Penduduk Menurut Umur dan Jenis Kelamin di Kab. Seruyan 2024)
Persentase kemiskinan sebesar 25,7 persen menempatkan kabupaten ini pada peringkat ke-32 nasional, dengan jumlah penduduk miskin mencapai 27.180 orang yang tumbuh 1,34 persen dari tahun sebelumnya. Total penduduk kabupaten ini mencapai 112.071 jiwa, dengan pertumbuhan 2,69 persen, dan peringkat nasional ke-449. Garis kemiskinan di sini sebesar Rp 480,73 ribu per kapita per bulan, tumbuh 12,49 persen dari tahun sebelumnya, sedangkan pendapatan per kapita mencapai Rp 33,31 juta per tahun dengan pertumbuhan 4,55 persen dan peringkat nasional ke-399. Dibandingkan Kabupaten Boven Digoel, jumlah penduduk miskin di sini lebih banyak, meskipun pertumbuhan kemiskinan lebih rendah, menunjukkan bahwa peningkatan penduduk tidak sejalan dengan penurunan jumlah miskin yang signifikan.
Kabupaten Merauke
Dengan persentase kemiskinan terendah di antara keempat kabupaten sebesar 10,19 persen, kabupaten ini menempatkan peringkat ke-234 nasional, dengan jumlah penduduk miskin 24.720 orang yang tumbuh 2,87 persen dari tahun sebelumnya. Total penduduk mencapai 246.397 jiwa, pertumbuhan 2,41 persen, dan peringkat nasional ke-298. Pendapatan per kapita tertinggi di wilayah ini sebesar Rp 85,00 juta per tahun, tumbuh 6,3 persen dan peringkat nasional ke-106, sedangkan garis kemiskinan sebesar Rp 484,22 ribu per kapita per bulan dengan pertumbuhan 11,42 persen. Kondisi ini menunjukkan bahwa pendapatan yang tinggi berkontribusi pada persentase kemiskinan yang lebih rendah dibandingkan kabupaten lain di Papua Selatan, bahkan dengan jumlah penduduk yang lebih besar daripada kabupaten tetangga lainnya.
Kabupaten Asmat
Persentase kemiskinan sebesar 24,5 persen menempatkan kabupaten ini pada peringkat ke-36 nasional, dengan jumlah penduduk miskin 26.240 orang yang tumbuh 2,58 persen dari tahun sebelumnya. Total penduduk mencapai 116.993 jiwa, pertumbuhan 6,49 persen dan peringkat nasional ke-443. Garis kemiskinan tertinggi di antara keempat kabupaten sebesar Rp 487,04 ribu per kapita per bulan, tumbuh 8,17 persen dari tahun sebelumnya, sedangkan pendapatan per kapita terendah sebesar Rp 28,77 juta per tahun dengan pertumbuhan 5,66 persen dan peringkat nasional ke-436. Meskipun pertumbuhan penduduk tinggi, pertumbuhan pendapatan tidak cukup untuk menurunkan persentase kemiskinan secara signifikan, sehingga jumlah miskin tetap tinggi dibandingkan Kabupaten Boven Digoel.