Kementerian LHK Deteksi 671 Titik Panas di Indonesia, Terbanyak di Nusa Tenggara Timur (Sabtu, 25 Oktober 2025)
- A Kecil
- A Sedang
- A Besar
Berdasarkan sistem pemantauan kebakaran hutan dan lahan SiPongi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), pemantauan 24 jam terakhir menunjukkan ada 671 titik panas (hotspot) terdeteksi di Indonesia. Jumlah titik panas ini berkurang 146 titik dibandingkan dengan periode sebelumnya.
Data tersebut merupakan hasil pencitraan satelit Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA yang diakses pada Sabtu (25/10/2025) pukul 11.53 WIB. Dari 671 titik panas terdeteksi, 17 titik dengan tingkat kepercayaan hotspot tinggi, 515 titik skala sedang, dan 139 titik skala rendah.
Tingkat kepercayaan hotspot terbagi menjadi 3 skala. Skala rendah memiliki rentang 0 - 29, skala sedang 30 - 79, dan skala tinggi 80 - 100. Semakin tinggi tingkat kepercayaan hotspot, semakin tinggi juga kemungkinan wilayah tertentu terjadi kebakaran hutan dan lahan.
(Baca: Gempa Bumi Berkekuatan 4.6 M Guncang 128 Km Utara Dari Lae, Papua)
Titik panas terdeteksi paling banyak berada di Nusa Tenggara Timur sebanyak 356 titik. Sulawesi Tenggara menempati posisi kedua jumlah titik panas terbanyak dengan 92 titik. Maluku berada di posisi ketiga sebanyak 81 titik panas.
Sebanyak 43 titik panas terdeteksi di Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan menyusul dengan 31 titik panas, serta Kalimantan Tengah dan Maluku Utara masing-masing memiliki 13 dan 11 titik panas terdeteksi.
Titik panas merupakan titik koordinat suatu daerah yang memiliki temperatur permukaan lebih tinggi dibandingkan sekitarnya, dan bukan jumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan.
Namun, banyaknya jumlah titik panas dan bergerombol pada suatu wilayah mengindikasikan adanya kejadian kebakaran hutan dan lahan. Artinya, data titik panas hasil deteksi satelit penginderaan jauh masih paling efektif dalam memantau kebakaran hutan dan lahan untuk wilayah yang luas.
(Baca: 10 Negara dengan Gempa Bumi Terbanyak 2023, Indonesia Pertama)