KLHK: Jumlah Hotspot di Indonesia Capai 1.137 Dalam 24 Jam Terakhir (Rabu, 15 Juli 2026)
- A Kecil
- A Sedang
- A Besar
Berdasarkan sistem pemantauan kebakaran hutan dan lahan SiPongi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), pemantauan 24 jam terakhir menunjukkan ada 1.137 titik panas (hotspot) terdeteksi di Indonesia. Jumlah titik panas ini bertambah 146 titik dibandingkan dengan periode sebelumnya.
Data tersebut merupakan hasil pencitraan satelit Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA yang diakses pada Rabu (15/7/2026) pukul 11.34 WIB. Dari 1.137 titik panas terdeteksi, 73 titik dengan tingkat kepercayaan hotspot tinggi, 1031 titik skala sedang, dan 33 titik skala rendah.
Tingkat kepercayaan hotspot terbagi menjadi 3 skala. Skala rendah memiliki rentang 0 - 29, skala sedang 30 - 79, dan skala tinggi 80 - 100. Semakin tinggi tingkat kepercayaan hotspot, semakin tinggi juga kemungkinan wilayah tertentu terjadi kebakaran hutan dan lahan.
(Baca: Gempa Bumi Berkekuatan 41 M Guncang Phala Hawaii)
Titik panas terdeteksi paling banyak berada di Kalimantan Barat sebanyak 227 titik. Papua Selatan menempati posisi kedua jumlah titik panas terbanyak dengan 133 titik. Kalimantan Timur berada di posisi ketiga sebanyak 108 titik panas.
Sebanyak 75 titik panas terdeteksi di Sumatera Selatan, Kepulauan Bangka Belitung menyusul dengan 58 titik panas, serta Kalimantan Selatan dan Jawa Timur masing-masing memiliki 56 dan 47 titik panas terdeteksi.
Titik panas merupakan titik koordinat suatu daerah yang memiliki temperatur permukaan lebih tinggi dibandingkan sekitarnya, dan bukan jumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan.
Namun, banyaknya jumlah titik panas dan bergerombol pada suatu wilayah mengindikasikan adanya kejadian kebakaran hutan dan lahan. Artinya, data titik panas hasil deteksi satelit penginderaan jauh masih paling efektif dalam memantau kebakaran hutan dan lahan untuk wilayah yang luas.
(Baca: Lima Gempa Bumi Terakhir yang Tercatat di BMKG (Rabu, 22 April 2026 12:17:58 WIB))
Data Terkait
Data Pasar
| Nama | Nilai | % | |
|---|---|---|---|
| Inflasi yoy (Jun) | 3,34% | +0.26 | |
| Inflasi mom (Jun) | 0,44% | +0.16 | |
| Pertumbuhan ekonomi | 5,11% | +0.08 | |
| Pertumbuhan ekonomi (yoy) (Q1) | 5,61% | +4.08 | |
| Persentase kemiskinan (Des) | 7,50% | -0.75 | |
| Gini rasio (Sem2) | 0,38 | 0.00 | |
| Nilai Tukar USDIDR | 18.073 | +0.14 | |
| PDB ADHK (Q1) | 3.447,70 | -0.77 | |
| Ekspor Migas (Mei) | 758,10 | -34.38 | |
| Neraca perdagangan (Mei) | -1,61 | -1,907.18 | |
| Impor Migas (Mei) | 4,51 | -1.82 | |
| Ekspor (Mei) | 23,20 | -8.30 | |
| Impor (Mei) | 24,81 | -1.59 | |
| Kunjungan Wisman (Mei) | 1,38 | +10.69 | |
| NTP (Jun) | 114,65 | +0.76 |