650 Hotspot Terdeteksi di Indonesia Dalam 24 Jam Terakhir (Sabtu, 14 Maret 2026)
- A Kecil
- A Sedang
- A Besar
Berdasarkan sistem pemantauan kebakaran hutan dan lahan SiPongi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), pemantauan 24 jam terakhir menunjukkan ada 650 titik panas (hotspot) terdeteksi di Indonesia. Jumlah titik panas ini berkurang 52 titik dibandingkan dengan periode sebelumnya.
Data tersebut merupakan hasil pencitraan satelit Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA yang diakses pada Sabtu (14/3/2026) pukul 11.47 WIB. Dari 650 titik panas terdeteksi, 15 titik dengan tingkat kepercayaan hotspot tinggi, 593 titik skala sedang, dan 42 titik skala rendah.
Tingkat kepercayaan hotspot terbagi menjadi 3 skala. Skala rendah memiliki rentang 0 - 29, skala sedang 30 - 79, dan skala tinggi 80 - 100. Semakin tinggi tingkat kepercayaan hotspot, semakin tinggi juga kemungkinan wilayah tertentu terjadi kebakaran hutan dan lahan.
(Baca: Kualitas Udara Indonesia Terburuk di ASEAN pada 2022)
Titik panas terdeteksi paling banyak berada di Riau sebanyak 218 titik. Kalimantan Barat menempati posisi kedua jumlah titik panas terbanyak dengan 184 titik. Kalimantan Tengah berada di posisi ketiga sebanyak 35 titik panas.
Sebanyak 31 titik panas terdeteksi di Jambi, Sumatera Selatan menyusul dengan 28 titik panas, serta Kepulauan Riau dan Sulawesi Selatan masing-masing memiliki 25 dan 22 titik panas terdeteksi.
Titik panas merupakan titik koordinat suatu daerah yang memiliki temperatur permukaan lebih tinggi dibandingkan sekitarnya, dan bukan jumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan.
Namun, banyaknya jumlah titik panas dan bergerombol pada suatu wilayah mengindikasikan adanya kejadian kebakaran hutan dan lahan. Artinya, data titik panas hasil deteksi satelit penginderaan jauh masih paling efektif dalam memantau kebakaran hutan dan lahan untuk wilayah yang luas.
(Baca: Jakarta dan Medan Kota Berpolusi Terburuk Dunia, Ini Tren Kualitas Udaranya)