KLHK: Jumlah Titik Panas di Indonesia Capai 347 Dalam 24 Jam Terakhir (Kamis, 5 Februari 2026)
- A Kecil
- A Sedang
- A Besar
Berdasarkan sistem pemantauan kebakaran hutan dan lahan SiPongi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), pemantauan 24 jam terakhir menunjukkan ada 347 titik panas (hotspot) terdeteksi di Indonesia. Jumlah titik panas ini berkurang 87 titik dibandingkan dengan periode sebelumnya.
Data tersebut merupakan hasil pencitraan satelit Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA yang diakses pada Kamis (5/2/2026) pukul 11.47 WIB. Dari 347 titik panas terdeteksi, 19 titik dengan tingkat kepercayaan hotspot tinggi, 315 titik skala sedang, dan 13 titik skala rendah.
Tingkat kepercayaan hotspot terbagi menjadi 3 skala. Skala rendah memiliki rentang 0 - 29, skala sedang 30 - 79, dan skala tinggi 80 - 100. Semakin tinggi tingkat kepercayaan hotspot, semakin tinggi juga kemungkinan wilayah tertentu terjadi kebakaran hutan dan lahan.
(Baca: Jumlah Rumah Rusak akibat Banjir dan Longsor Sumatra (17 Desember 2025))
Titik panas terdeteksi paling banyak berada di Riau sebanyak 132 titik. Sulawesi Tengah menempati posisi kedua jumlah titik panas terbanyak dengan 60 titik. Maluku Utara berada di posisi ketiga sebanyak 28 titik panas.
Sebanyak 23 titik panas terdeteksi di Sulawesi Tenggara, Kalimantan Timur menyusul dengan 20 titik panas, serta Maluku dan Sulawesi Selatan masing-masing memiliki 13 dan 12 titik panas terdeteksi.
Titik panas merupakan titik koordinat suatu daerah yang memiliki temperatur permukaan lebih tinggi dibandingkan sekitarnya, dan bukan jumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan.
Namun, banyaknya jumlah titik panas dan bergerombol pada suatu wilayah mengindikasikan adanya kejadian kebakaran hutan dan lahan. Artinya, data titik panas hasil deteksi satelit penginderaan jauh masih paling efektif dalam memantau kebakaran hutan dan lahan untuk wilayah yang luas.
(Baca: Sebaran Titik Banjir Jakarta (23 Januari 2026 Pukul 07.00 WIB))