63 Hotspot Terdeteksi di Indonesia Dalam 24 Jam Terakhir (Minggu, 17 Mei 2026)

1
Irfan Fadhlurrahman 17/05/2026 11:43 WIB
Image Loader
Memuat...
10 Provinsi dengan Jumlah Hotspot Terbanyak di Indonesia 24 Jam Terakhir
databoks logo
  • A Kecil
  • A Sedang
  • A Besar

Berdasarkan sistem pemantauan kebakaran hutan dan lahan SiPongi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), pemantauan 24 jam terakhir menunjukkan ada 63 titik panas (hotspot) terdeteksi di Indonesia. Jumlah titik panas ini berkurang 98 titik dibandingkan dengan periode sebelumnya.

Data tersebut merupakan hasil pencitraan satelit Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA yang diakses pada Minggu (17/5/2026) pukul 11.43 WIB. Dari 63 titik panas terdeteksi, 2 titik dengan tingkat kepercayaan hotspot tinggi dan 61 titik skala sedang.

Tingkat kepercayaan hotspot terbagi menjadi 3 skala. Skala rendah memiliki rentang 0 - 29, skala sedang 30 - 79, dan skala tinggi 80 - 100. Semakin tinggi tingkat kepercayaan hotspot, semakin tinggi juga kemungkinan wilayah tertentu terjadi kebakaran hutan dan lahan.

(Baca: Banjir Dominasi Bencana Alam di Indonesia Akhir Februari 2024)

Titik panas terdeteksi paling banyak berada di Jawa Timur sebanyak 16 titik. Kalimantan Timur menempati posisi kedua jumlah titik panas terbanyak dengan 10 titik. Nusa Tenggara Barat berada di posisi ketiga sebanyak 9 titik panas.

Sebanyak 7 titik panas terdeteksi di Nusa Tenggara Timur, Papua Pegunungan menyusul dengan 5 titik panas, serta Papua Selatan dan Sulawesi Tengah masing-masing memiliki 3 dan 3 titik panas terdeteksi.

Titik panas merupakan titik koordinat suatu daerah yang memiliki temperatur permukaan lebih tinggi dibandingkan sekitarnya, dan bukan jumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan.

Namun, banyaknya jumlah titik panas dan bergerombol pada suatu wilayah mengindikasikan adanya kejadian kebakaran hutan dan lahan. Artinya, data titik panas hasil deteksi satelit penginderaan jauh masih paling efektif dalam memantau kebakaran hutan dan lahan untuk wilayah yang luas.

(Baca: Jumlah Korban Menderita-Mengungsi karena Bencana Alam di Indonesia 2015-2024)

Data Populer

Loading...