KLHK: Jumlah Hotspot di Indonesia Capai 307 Dalam 24 Jam Terakhir (Selasa, 12 Mei 2026)
- A Kecil
- A Sedang
- A Besar
Berdasarkan sistem pemantauan kebakaran hutan dan lahan SiPongi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), pemantauan 24 jam terakhir menunjukkan ada 307 titik panas (hotspot) terdeteksi di Indonesia. Jumlah titik panas ini bertambah 138 titik dibandingkan dengan periode sebelumnya.
Data tersebut merupakan hasil pencitraan satelit Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA yang diakses pada Selasa (12/5/2026) pukul 11.21 WIB. Dari 307 titik panas terdeteksi, 6 titik dengan tingkat kepercayaan hotspot tinggi, 294 titik skala sedang, dan 7 titik skala rendah.
Tingkat kepercayaan hotspot terbagi menjadi 3 skala. Skala rendah memiliki rentang 0 - 29, skala sedang 30 - 79, dan skala tinggi 80 - 100. Semakin tinggi tingkat kepercayaan hotspot, semakin tinggi juga kemungkinan wilayah tertentu terjadi kebakaran hutan dan lahan.
(Baca: Gempa Bumi Berkekuatan 42 M Guncang Kepulauan Fox Aleutian)
Titik panas terdeteksi paling banyak berada di Kalimantan Timur sebanyak 43 titik. Maluku Utara menempati posisi kedua jumlah titik panas terbanyak dengan 41 titik. Sumatera Selatan berada di posisi ketiga sebanyak 30 titik panas.
Sebanyak 28 titik panas terdeteksi di Sulawesi Tengah, Nusa Tenggara Timur menyusul dengan 18 titik panas, serta Riau dan Kalimantan Utara masing-masing memiliki 14 dan 13 titik panas terdeteksi.
Titik panas merupakan titik koordinat suatu daerah yang memiliki temperatur permukaan lebih tinggi dibandingkan sekitarnya, dan bukan jumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan.
Namun, banyaknya jumlah titik panas dan bergerombol pada suatu wilayah mengindikasikan adanya kejadian kebakaran hutan dan lahan. Artinya, data titik panas hasil deteksi satelit penginderaan jauh masih paling efektif dalam memantau kebakaran hutan dan lahan untuk wilayah yang luas.
(Baca: Gempa Bumi Berkekuatan 4.4 M Guncang Babar, Indonesia)