Kementerian LHK: Jumlah Hotspot di Indonesia Capai 467 Dalam 24 Jam Terakhir (Rabu, 3 Juni 2026)
- A Kecil
- A Sedang
- A Besar
Berdasarkan sistem pemantauan kebakaran hutan dan lahan SiPongi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), pemantauan 24 jam terakhir menunjukkan ada 467 titik panas (hotspot) terdeteksi di Indonesia. Jumlah titik panas ini bertambah 80 titik dibandingkan dengan periode sebelumnya.
Data tersebut merupakan hasil pencitraan satelit Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA yang diakses pada Rabu (3/6/2026) pukul 11.12 WIB. Dari 467 titik panas terdeteksi, 10 titik dengan tingkat kepercayaan hotspot tinggi, 450 titik skala sedang, dan 7 titik skala rendah.
Tingkat kepercayaan hotspot terbagi menjadi 3 skala. Skala rendah memiliki rentang 0 - 29, skala sedang 30 - 79, dan skala tinggi 80 - 100. Semakin tinggi tingkat kepercayaan hotspot, semakin tinggi juga kemungkinan wilayah tertentu terjadi kebakaran hutan dan lahan.
(Baca: Gempa Bumi Berkekuatan 4.4 M Guncang Babar, Indonesia)
Titik panas terdeteksi paling banyak berada di Riau sebanyak 67 titik. Sumatera Selatan menempati posisi kedua jumlah titik panas terbanyak dengan 48 titik. Kalimantan Barat berada di posisi ketiga sebanyak 47 titik panas.
Sebanyak 29 titik panas terdeteksi di Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat menyusul dengan 29 titik panas, serta Jawa Timur dan Maluku Utara masing-masing memiliki 28 dan 21 titik panas terdeteksi.
Titik panas merupakan titik koordinat suatu daerah yang memiliki temperatur permukaan lebih tinggi dibandingkan sekitarnya, dan bukan jumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan.
Namun, banyaknya jumlah titik panas dan bergerombol pada suatu wilayah mengindikasikan adanya kejadian kebakaran hutan dan lahan. Artinya, data titik panas hasil deteksi satelit penginderaan jauh masih paling efektif dalam memantau kebakaran hutan dan lahan untuk wilayah yang luas.
(Baca: Gempa Bumi Berkekuatan 4.5 M Guncang 14 Km Utara Dari San Carlos,)
Data Terkait
Data Pasar
| Nama | Nilai | % | |
|---|---|---|---|
| Pertumbuhan ekonomi | 5,11% | +0.08 | |
| Gini rasio (Sem2) | 0,38 | 0.00 | |
| PDB ADHK (Q1) | 3.447,70 | -0.77 | |
| Nilai Tukar USDIDR | 18 | +0.44 | |
| Neraca perdagangan (Apr) | 89,10 | -97.32 | |
| Ekspor Migas (Apr) | 1,16 | -9.81 | |
| Impor Migas (Mar) | 3,17 | +58.74 | |
| Ekspor (Apr) | 25,30 | +12.32 | |
| Impor (Mar) | 19,21 | -8.08 | |
| Kunjungan Wisman (Mar) | 1,09 | -6.17 | |
| Inflasi yoy (Mei) | 3,08% | +0.66 | |
| Inflasi mom (Mei) | 0,28% | +0.15 | |
| Persentase kemiskinan (Des) | 7,50% | -0.75 | |
| NTP (Apr) | 112,29 | +0.43 |