Kementerian LHK Deteksi 453 Hotspot di Indonesia, Terbanyak di Jawa Timur (Kamis, 15 Agustus 2024)
- A Kecil
- A Sedang
- A Besar
Berdasarkan sistem pemantauan kebakaran hutan dan lahan SiPongi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), pemantauan 24 jam terakhir menunjukkan ada 453 titik panas (hotspot) terdeteksi di Indonesia. Jumlah titik panas ini bertambah 103 titik dibandingkan dengan periode sebelumnya.
Data tersebut merupakan hasil pencitraan satelit Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA yang diakses pada Kamis (15/8/2024) pukul 16.16 WIB. Dari 453 titik panas terdeteksi, 10 titik dengan tingkat kepercayaan hotspot tinggi, 442 titik skala sedang, dan 1 titik skala rendah.
Tingkat kepercayaan hotspot terbagi menjadi 3 skala. Skala rendah memiliki rentang 0 - 29, skala sedang 30 - 79, dan skala tinggi 80 - 100. Semakin tinggi tingkat kepercayaan hotspot, semakin tinggi juga kemungkinan wilayah tertentu terjadi kebakaran hutan dan lahan.
(Baca: Hampir 5 Ribu Kejadian Bencana Alam di Indonesia Sepanjang 2023, Karhutla Mendominasi)
Titik panas terdeteksi paling banyak berada di Jawa Timur sebanyak 48 titik. Kalimantan Timur menempati posisi kedua jumlah titik panas terbanyak dengan 48 titik. Jawa Tengah berada di posisi ketiga sebanyak 46 titik panas.
Sebanyak 44 titik panas terdeteksi di Kalimantan Selatan, Sulawesi Tengah menyusul dengan 38 titik panas, serta Jawa Barat dan Sulawesi Selatan masing-masing memiliki 29 dan 29 titik panas terdeteksi.
Titik panas merupakan titik koordinat suatu daerah yang memiliki temperatur permukaan lebih tinggi dibandingkan sekitarnya, dan bukan jumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan.
Namun, banyaknya jumlah titik panas dan bergerombol pada suatu wilayah mengindikasikan adanya kejadian kebakaran hutan dan lahan. Artinya, data titik panas hasil deteksi satelit penginderaan jauh masih paling efektif dalam memantau kebakaran hutan dan lahan untuk wilayah yang luas.
(Baca: Akibat Karhutla, ISPA Kalimantan Selatan Capai 189 Ribu Kasus per September 2023)