Kementerian LHK Deteksi 458 Hotspot di Indonesia, Terbanyak di Kalimantan Barat (Senin, 2 Februari 2026)
- A Kecil
- A Sedang
- A Besar
Berdasarkan sistem pemantauan kebakaran hutan dan lahan SiPongi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), pemantauan 24 jam terakhir menunjukkan ada 458 titik panas (hotspot) terdeteksi di Indonesia. Jumlah titik panas ini bertambah 75 titik dibandingkan dengan periode sebelumnya.
Data tersebut merupakan hasil pencitraan satelit Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA yang diakses pada Senin (2/2/2026) pukul 11.14 WIB. Dari 458 titik panas terdeteksi, 12 titik dengan tingkat kepercayaan hotspot tinggi, 432 titik skala sedang, dan 14 titik skala rendah.
Tingkat kepercayaan hotspot terbagi menjadi 3 skala. Skala rendah memiliki rentang 0 - 29, skala sedang 30 - 79, dan skala tinggi 80 - 100. Semakin tinggi tingkat kepercayaan hotspot, semakin tinggi juga kemungkinan wilayah tertentu terjadi kebakaran hutan dan lahan.
(Baca: Hanya Ada 12 Wilayah yang Lulus Standar Kualitas Udara WHO 2024)
Titik panas terdeteksi paling banyak berada di Kalimantan Barat sebanyak 159 titik. Riau menempati posisi kedua jumlah titik panas terbanyak dengan 48 titik. Maluku Utara berada di posisi ketiga sebanyak 45 titik panas.
Sebanyak 39 titik panas terdeteksi di Kepulauan Riau, Sulawesi Tengah menyusul dengan 25 titik panas, serta Aceh dan Sulawesi Tenggara masing-masing memiliki 23 dan 17 titik panas terdeteksi.
Titik panas merupakan titik koordinat suatu daerah yang memiliki temperatur permukaan lebih tinggi dibandingkan sekitarnya, dan bukan jumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan.
Namun, banyaknya jumlah titik panas dan bergerombol pada suatu wilayah mengindikasikan adanya kejadian kebakaran hutan dan lahan. Artinya, data titik panas hasil deteksi satelit penginderaan jauh masih paling efektif dalam memantau kebakaran hutan dan lahan untuk wilayah yang luas.
(Baca: Survei Kurious: Banyak Orang Merasa Kualitas Udara Indonesia Buruk)