Kementerian LHK Deteksi 287 Hotspot di Indonesia, Terbanyak di Nusa Tenggara Timur (Rabu, 22 Oktober 2025)
- A Kecil
- A Sedang
- A Besar
Berdasarkan sistem pemantauan kebakaran hutan dan lahan SiPongi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), pemantauan 24 jam terakhir menunjukkan ada 287 titik panas (hotspot) terdeteksi di Indonesia. Jumlah titik panas ini berkurang 143 titik dibandingkan dengan periode sebelumnya.
Data tersebut merupakan hasil pencitraan satelit Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA yang diakses pada Rabu (22/10/2025) pukul 11.53 WIB. Dari 287 titik panas terdeteksi, 12 titik dengan tingkat kepercayaan hotspot tinggi, 272 titik skala sedang, dan 3 titik skala rendah.
Tingkat kepercayaan hotspot terbagi menjadi 3 skala. Skala rendah memiliki rentang 0 - 29, skala sedang 30 - 79, dan skala tinggi 80 - 100. Semakin tinggi tingkat kepercayaan hotspot, semakin tinggi juga kemungkinan wilayah tertentu terjadi kebakaran hutan dan lahan.
(Baca: Banjir Mendominasi Bencana Alam di Indonesia pada Awal 2024)
Titik panas terdeteksi paling banyak berada di Nusa Tenggara Timur sebanyak 77 titik. Kalimantan Tengah menempati posisi kedua jumlah titik panas terbanyak dengan 57 titik. Maluku Utara berada di posisi ketiga sebanyak 45 titik panas.
Sebanyak 19 titik panas terdeteksi di Sulawesi Tenggara, Papua Selatan menyusul dengan 16 titik panas, serta Nusa Tenggara Barat dan Kalimantan Timur masing-masing memiliki 12 dan 10 titik panas terdeteksi.
Titik panas merupakan titik koordinat suatu daerah yang memiliki temperatur permukaan lebih tinggi dibandingkan sekitarnya, dan bukan jumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan.
Namun, banyaknya jumlah titik panas dan bergerombol pada suatu wilayah mengindikasikan adanya kejadian kebakaran hutan dan lahan. Artinya, data titik panas hasil deteksi satelit penginderaan jauh masih paling efektif dalam memantau kebakaran hutan dan lahan untuk wilayah yang luas.
(Baca: Cuaca Ekstrem hingga Banjir, Ada 927 Kejadian Bencana Alam di Indonesia hingga Awal Mei 2023)