KLHK: Jumlah Hotspot di Indonesia Capai 494 Dalam 24 Jam Terakhir (Jumat, 19 September 2025)
- A Kecil
- A Sedang
- A Besar
Berdasarkan sistem pemantauan kebakaran hutan dan lahan SiPongi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), pemantauan 24 jam terakhir menunjukkan ada 494 titik panas (hotspot) terdeteksi di Indonesia. Jumlah titik panas ini berkurang 174 titik dibandingkan dengan periode sebelumnya.
Data tersebut merupakan hasil pencitraan satelit Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA yang diakses pada Jumat (19/9/2025) pukul 11.07 WIB. Dari 494 titik panas terdeteksi, 2 titik dengan tingkat kepercayaan hotspot tinggi, 451 titik skala sedang, dan 41 titik skala rendah.
Tingkat kepercayaan hotspot terbagi menjadi 3 skala. Skala rendah memiliki rentang 0 - 29, skala sedang 30 - 79, dan skala tinggi 80 - 100. Semakin tinggi tingkat kepercayaan hotspot, semakin tinggi juga kemungkinan wilayah tertentu terjadi kebakaran hutan dan lahan.
(Baca: Nilai Kerugian Ekonomi Akibat Banjir Secara Global Turun pada 2023)
Titik panas terdeteksi paling banyak berada di Nusa Tenggara Timur sebanyak 109 titik. Sulawesi Tenggara menempati posisi kedua jumlah titik panas terbanyak dengan 73 titik. Sulawesi Selatan berada di posisi ketiga sebanyak 62 titik panas.
Sebanyak 45 titik panas terdeteksi di Sumatera Selatan, Sulawesi Tengah menyusul dengan 31 titik panas, serta Nusa Tenggara Barat dan Jawa Timur masing-masing memiliki 22 dan 20 titik panas terdeteksi.
Titik panas merupakan titik koordinat suatu daerah yang memiliki temperatur permukaan lebih tinggi dibandingkan sekitarnya, dan bukan jumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan.
Namun, banyaknya jumlah titik panas dan bergerombol pada suatu wilayah mengindikasikan adanya kejadian kebakaran hutan dan lahan. Artinya, data titik panas hasil deteksi satelit penginderaan jauh masih paling efektif dalam memantau kebakaran hutan dan lahan untuk wilayah yang luas.
(Baca: 10 Merek Pembersih "Make Up" Terlaris di Shopee Q1 2025, Banjir Produk Luar )