Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data persentase kemiskinan Kabupaten Pesisir Selatan Sumatera Barat semester 2025 sebesar 6,52 persen. Angka ini turun 12,95 persen dibanding tahun sebelumnya, dengan total penduduk miskin sebanyak 31.530 jiwa atau berkurang 4.520 jiwa dari periode 2024. Saat ini wilayah ini menempati urutan 350 dari 514 kabupaten/kota seluruh Indonesia untuk indikator persentase kemiskinan.
(Baca: Persentase Penduduk Miskin Periode 2013-2025)
Selama periode 2004 sampai 2025, persentase kemiskinan wilayah ini tercatat tertinggi pada tahun 2006 sebesar 14,76 persen, sementara angka terendah dicapai pada tahun 2025 ini. Pertumbuhan penurunan angka kemiskinan terbesar terjadi pada tahun 2025, sementara kenaikan angka kemiskinan tertinggi tercatat pada tahun 2006 sebesar 18,74 persen. Rata-rata persentase kemiskinan 3 tahun terakhir sebesar 7,12 persen, lebih tinggi dibanding angka tahun 2025.
Urutan peringkat kemiskinan wilayah ini secara nasional bergeser naik turun sepanjang periode data, dari posisi 272 pada tahun 2004 hingga saat ini berada di angka 350. Rata-rata persentase kemiskinan 5 tahun terakhir tercatat 7,46 persen, menunjukkan angka tahun 2025 berada jauh di bawah rata-rata periode tersebut. Penurunan terbesar dalam sejarah data terjadi pada tahun ini tanpa anomali lonjakan sebelumnya.
Dari empat kabupaten tetangga di Sumatera Barat yang memiliki angka kemiskinan berdekatan, Kabupaten Pesisir Selatan mencatatkan penurunan persentase kemiskinan terbesar dibanding wilayah lainnya pada periode terakhir. Berikut rincian kondisi masing-masing wilayah pembanding:
Kabupaten Kepulauan Mentawai
(Baca: Jumlah Penduduk dan Persentase Kemiskinan di Kabupaten Bengkulu Utara | 2004 - 2025)
Wilayah ini menempati urutan 118 se-Indonesia untuk persentase kemiskinan, dengan angka saat ini 13,22 persen. Jumlah penduduk miskin tercatat 13.740 jiwa, turun 3,17 persen dari tahun sebelumnya. Pendapatan per kapita masyarakat mencapai 70,08 juta rupiah per tahun, dengan garis kemiskinan sebesar 474,88 ribu rupiah per kapita per bulan. Penurunan angka kemiskinan di wilayah ini merupakan yang terkecil dari seluruh wilayah pembanding.
Kabupaten Lima Puluh Kota
Memiliki urutan 375 se-Indonesia untuk persentase kemiskinan, angka kemiskinan di wilayah ini tercatat 6,10 persen. Jumlah penduduk miskin sebanyak 24.610 jiwa, turun 11,22 persen dari tahun sebelumnya. Pendapatan per kapita masyarakat tercatat 55,39 juta rupiah per tahun, sementara garis kemiskinan ditetapkan sebesar 593,40 ribu rupiah per kapita per bulan. Wilayah ini mencatatkan penurunan angka kemiskinan terbesar kedua setelah Kabupaten Pesisir Selatan.
Kabupaten Pasaman Barat
Menempati urutan 361 se-Indonesia untuk indikator persentase kemiskinan, wilayah ini mencatatkan angka kemiskinan 6,30 persen. Total penduduk miskin sebanyak 31.680 jiwa, angka ini turun 8,44 persen dibanding periode tahun sebelumnya. Pendapatan per kapita masyarakat mencapai 49,72 juta rupiah per tahun, dengan garis kemiskinan sebesar 669,36 ribu rupiah per kapita per bulan. Wilayah ini memiliki jumlah penduduk miskin yang hampir sama dengan Kabupaten Pesisir Selatan.
Kabupaten Solok
Memiliki persentase kemiskinan yang sama persis dengan Kabupaten Pesisir Selatan yaitu 6,52 persen, wilayah ini menempati urutan yang sama 350 se-Indonesia untuk indikator ini. Jumlah penduduk miskin tercatat 25.230 jiwa, turun 10,47 persen dari tahun sebelumnya. Pendapatan per kapita masyarakat tercatat 46,72 juta rupiah per tahun, sementara garis kemiskinan ditetapkan sebesar 579,50 ribu rupiah per kapita per bulan. Pertumbuhan penurunan angka kemiskinan di wilayah ini berada di urutan ketiga dari seluruh wilayah pembanding.