Kementerian LHK Temukan 474 Titik Panas di Indonesia, Terbanyak di Kalimantan Barat (Senin, 2 Maret 2026)
- A Kecil
- A Sedang
- A Besar
Berdasarkan sistem pemantauan kebakaran hutan dan lahan SiPongi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), pemantauan 24 jam terakhir menunjukkan ada 474 titik panas (hotspot) terdeteksi di Indonesia.
Data tersebut merupakan hasil pencitraan satelit Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA yang diakses pada Senin (2/3/2026) pukul 11.47 WIB. Dari 474 titik panas terdeteksi, 42 titik dengan tingkat kepercayaan hotspot tinggi, 411 titik skala sedang, dan 21 titik skala rendah.
Tingkat kepercayaan hotspot terbagi menjadi 3 skala. Skala rendah memiliki rentang 0 - 29, skala sedang 30 - 79, dan skala tinggi 80 - 100. Semakin tinggi tingkat kepercayaan hotspot, semakin tinggi juga kemungkinan wilayah tertentu terjadi kebakaran hutan dan lahan.
(Baca: Gempa Bumi Berkekuatan 4.4 M Guncang Babar, Indonesia)
Titik panas terdeteksi paling banyak berada di Kalimantan Barat sebanyak 237 titik. Riau menempati posisi kedua jumlah titik panas terbanyak dengan 35 titik. Sulawesi Tenggara berada di posisi ketiga sebanyak 34 titik panas.
Sebanyak 31 titik panas terdeteksi di Sumatera Utara, Sumatera Selatan menyusul dengan 20 titik panas, serta Aceh dan Kepulauan Bangka Belitung masing-masing memiliki 17 dan 16 titik panas terdeteksi.
Titik panas merupakan titik koordinat suatu daerah yang memiliki temperatur permukaan lebih tinggi dibandingkan sekitarnya, dan bukan jumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan.
Namun, banyaknya jumlah titik panas dan bergerombol pada suatu wilayah mengindikasikan adanya kejadian kebakaran hutan dan lahan. Artinya, data titik panas hasil deteksi satelit penginderaan jauh masih paling efektif dalam memantau kebakaran hutan dan lahan untuk wilayah yang luas.
(Baca: Gempa Bumi Berkekuatan 4.7 M Guncang Kepulauan Bonin, Wilayah)