Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat persentase penduduk miskin Kabupaten Belu tahun 2025 mencapai 12,79 persen. Angka ini turun sebesar 1,07 persen dibanding tahun 2024, dengan penurunan jumlah penduduk miskin sebesar 2.170 jiwa dari 32.570 jiwa menjadi 30.400 jiwa.
Sepanjang periode 2004 sampai 2025, persentase kemiskinan di wilayah ini pernah mencapai nilai tertinggi 21,02 persen pada tahun 2007, dan nilai terendah tercatat pada tahun 2025. Pertumbuhan penurunan angka kemiskinan terbesar terjadi tahun 2025 sebesar 7,72 persen, sementara kenaikan terbesar terjadi tahun 2015 sebesar 18,05 persen.
(Baca: Jumlah Penduduk dan Persentase Kemiskinan di Kabupaten Bombana | 2005 - 2025)
Secara peringkat nasional, Kabupaten Belu saat ini menempati urutan 128 dari 514 kabupaten/kota seluruh Indonesia. Pada periode 2018 sampai 2023 peringkat wilayah ini konsisten berada di rentang 113 sampai 125, sebelum bergeser ke urutan 126 pada 2024 dan 128 pada tahun berjalan.
Kabupaten Manggarai Barat
Berada di peringkat 73 nasional untuk persentase kemiskinan, wilayah ini mencatat angka 16,09 persen dengan penurunan sedikit sebesar 3,88 persen dibanding tahun sebelumnya. Jumlah penduduk miskin tercatat 49.550 jiwa, pendapatan per kapita mencapai 17,76 juta rupiah per tahun, dengan garis kemiskinan sebesar 477,23 ribu rupiah per kapita setiap bulannya.
Kabupaten Manggarai
Peringkat 58 nasional menjadi urutan terendah dari seluruh kabupaten dalam daftar perbandingan ini, dengan persentase kemiskinan sebesar 18,10 persen. Penurunan angka kemiskinan berjalan 4,79 persen, dengan total penduduk miskin 65.810 jiwa. Pendapatan per kapita masyarakat tercatat 18,76 juta rupiah per tahun, sementara garis kemiskinan ditetapkan pada 472,89 ribu rupiah per kapita per bulan.
Kabupaten Nagekeo
(Baca: Jumlah Penduduk dan Persentase Kemiskinan di Kabupaten Pekalongan | 2004 - 2025)
Wilayah ini menempati urutan 143 nasional, dengan persentase kemiskinan 12,18 persen yang hanya mengalami penurunan sedikit 0,98 persen tahun ini. Total penduduk miskin tercatat 18.630 jiwa, menjadi jumlah terendah dibanding seluruh kabupaten dalam kelompok perbandingan. Pendapatan per kapita mencapai 17,88 juta rupiah per tahun, dengan garis kemiskinan 516,14 ribu rupiah per kapita per bulan.
Kabupaten Ngada
Pada urutan 164 nasional, wilayah ini mencatatkan persentase kemiskinan 11,22 persen dengan penurunan 5,48 persen tahun ini. Jumlah penduduk miskin tercatat 19.530 jiwa, pendapatan per kapita mencapai 27,07 juta rupiah per tahun menjadi nilai tertinggi dibanding kabupaten lain dalam kelompok ini, dengan garis kemiskinan 510,27 ribu rupiah per kapita per bulan.
Kabupaten Malaka
Berada di peringkat 109 nasional, wilayah ini memiliki persentase kemiskinan 13,52 persen dengan penurunan sedikit 2,87 persen dibanding tahun sebelumnya. Jumlah penduduk miskin tercatat 28.050 jiwa, pendapatan per kapita mencapai 20,66 juta rupiah per tahun, sementara garis kemiskinan ditetapkan sebesar 494,02 ribu rupiah per kapita setiap bulannya.
Kabupaten Sikka
Wilayah ini menempati urutan 162 nasional dengan persentase kemiskinan 11,25 persen yang mengalami penurunan 5,38 persen tahun ini. Jumlah penduduk miskin tercatat 36.740 jiwa, pendapatan per kapita masyarakat mencapai 21,14 juta rupiah per tahun, dengan garis kemiskinan terendah di kelompok ini yaitu 447,47 ribu rupiah per kapita per bulan.