Kementerian LHK Temukan 278 Hotspot di Indonesia, Terbanyak di Kalimantan Timur (Rabu, 13 Mei 2026)
- A Kecil
- A Sedang
- A Besar
Berdasarkan sistem pemantauan kebakaran hutan dan lahan SiPongi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), pemantauan 24 jam terakhir menunjukkan ada 278 titik panas (hotspot) terdeteksi di Indonesia. Jumlah titik panas ini berkurang 29 titik dibandingkan dengan periode sebelumnya.
Data tersebut merupakan hasil pencitraan satelit Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA yang diakses pada Rabu (13/5/2026) pukul 11.21 WIB. Dari 278 titik panas terdeteksi, 4 titik dengan tingkat kepercayaan hotspot tinggi, 270 titik skala sedang, dan 4 titik skala rendah.
Tingkat kepercayaan hotspot terbagi menjadi 3 skala. Skala rendah memiliki rentang 0 - 29, skala sedang 30 - 79, dan skala tinggi 80 - 100. Semakin tinggi tingkat kepercayaan hotspot, semakin tinggi juga kemungkinan wilayah tertentu terjadi kebakaran hutan dan lahan.
(Baca: Mayoritas Warga Indonesia Akses Informasi Kualitas Udara dari Media Sosial)
Titik panas terdeteksi paling banyak berada di Kalimantan Timur sebanyak 43 titik. Sulawesi Tengah menempati posisi kedua jumlah titik panas terbanyak dengan 31 titik. Jawa Timur berada di posisi ketiga sebanyak 26 titik panas.
Sebanyak 26 titik panas terdeteksi di Sumatera Selatan, Maluku Utara menyusul dengan 22 titik panas, serta Jawa Tengah dan Nusa Tenggara Barat masing-masing memiliki 18 dan 11 titik panas terdeteksi.
Titik panas merupakan titik koordinat suatu daerah yang memiliki temperatur permukaan lebih tinggi dibandingkan sekitarnya, dan bukan jumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan.
Namun, banyaknya jumlah titik panas dan bergerombol pada suatu wilayah mengindikasikan adanya kejadian kebakaran hutan dan lahan. Artinya, data titik panas hasil deteksi satelit penginderaan jauh masih paling efektif dalam memantau kebakaran hutan dan lahan untuk wilayah yang luas.
(Baca: Bukan Jakarta, Inilah Daerah dengan Kualitas Udara Terburuk di Indonesia (Rabu, 7 Juni 2023))