Kementerian LHK: Jumlah Hotspot di Indonesia Capai 677 Dalam 24 Jam Terakhir (Senin, 29 Juni 2026)
- A Kecil
- A Sedang
- A Besar
Berdasarkan sistem pemantauan kebakaran hutan dan lahan SiPongi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), pemantauan 24 jam terakhir menunjukkan ada 677 titik panas (hotspot) terdeteksi di Indonesia. Jumlah titik panas ini berkurang 147 titik dibandingkan dengan periode sebelumnya.
Data tersebut merupakan hasil pencitraan satelit Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA yang diakses pada Senin (29/6/2026) pukul 11.53 WIB. Dari 677 titik panas terdeteksi, 20 titik dengan tingkat kepercayaan hotspot tinggi, 632 titik skala sedang, dan 25 titik skala rendah.
Tingkat kepercayaan hotspot terbagi menjadi 3 skala. Skala rendah memiliki rentang 0 - 29, skala sedang 30 - 79, dan skala tinggi 80 - 100. Semakin tinggi tingkat kepercayaan hotspot, semakin tinggi juga kemungkinan wilayah tertentu terjadi kebakaran hutan dan lahan.
(Baca: Hanya Ada 12 Wilayah yang Lulus Standar Kualitas Udara WHO 2024)
Titik panas terdeteksi paling banyak berada di Kalimantan Timur sebanyak 114 titik. Jawa Timur menempati posisi kedua jumlah titik panas terbanyak dengan 110 titik. Nusa Tenggara Timur berada di posisi ketiga sebanyak 65 titik panas.
Sebanyak 46 titik panas terdeteksi di Nusa Tenggara Barat, Sumatera Selatan menyusul dengan 42 titik panas, serta Maluku Utara dan Jawa Tengah masing-masing memiliki 41 dan 39 titik panas terdeteksi.
Titik panas merupakan titik koordinat suatu daerah yang memiliki temperatur permukaan lebih tinggi dibandingkan sekitarnya, dan bukan jumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan.
Namun, banyaknya jumlah titik panas dan bergerombol pada suatu wilayah mengindikasikan adanya kejadian kebakaran hutan dan lahan. Artinya, data titik panas hasil deteksi satelit penginderaan jauh masih paling efektif dalam memantau kebakaran hutan dan lahan untuk wilayah yang luas.
(Baca: Indonesia, Negara dengan Kualitas Udara Terburuk di Asia Tenggara)
Data Terkait
Data Pasar
| Nama | Nilai | % | |
|---|---|---|---|
| Inflasi yoy (Mei) | 3,08% | +0.66 | |
| Inflasi mom (Mei) | 0,28% | +0.15 | |
| Pertumbuhan ekonomi | 5,11% | +0.08 | |
| Pertumbuhan ekonomi (yoy) (Q1) | 5,61% | +4.08 | |
| Persentase kemiskinan (Des) | 7,50% | -0.75 | |
| Gini rasio (Sem2) | 0,38 | 0.00 | |
| Nilai Tukar USDIDR | 17.843 | -0.24 | |
| PDB ADHK (Q1) | 3.447,70 | -0.77 | |
| Neraca perdagangan (Apr) | 89,10 | -97.32 | |
| Ekspor Migas (Apr) | 1,16 | -9.81 | |
| Impor Migas (Apr) | 4,60 | +45.09 | |
| Ekspor (Apr) | 25,30 | +12.32 | |
| Impor (Apr) | 25,21 | +31.28 | |
| Kunjungan Wisman (Apr) | 1,25 | +14.75 | |
| NTP (Mei) | 113,79 | +1.34 |